COP30 Belem, Indonesia Tegaskan Komitmen Penuhi Paris Agreement

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Indonesia akan menegaskan komitmennya untuk memenuhi target aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim sesuai Paris Agreement dalam Konferensi Perubahan Iklim COP30 UNFCCC yang akan digelar di Belem, Brasil, awal November 2025.

Utusan Khusus Presiden RI Bidang Energi dan Perubahan Iklim Hashim Djojohadikusumo, yang akan memimpin delegasi Indonesia pada konferensi tersebut, mengatakan bahwa komitmen Indonesia terhadap aksi iklim telah disampaikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Majelis Umum PBB di New York beberapa waktu lalu.

“Semua janji bangsa Indonesia yang ditandatangani pada November 2015 di Paris akan dipenuhi,” kata Hashim dalam rapat koordinasi akhir delegasi Indonesia menjelang COP30 di Jakarta, Rabu (29/10/2025).

Read also:  Diminati Investor Korea, KLH Buka Peluang Pemanfaatan Metana di TPA Sampah

Hashim menegaskan bahwa perubahan iklim telah memberikan dampak nyata bagi Indonesia, khususnya di wilayah pesisir. Ia mencontohkan pesisir utara Pulau Jawa yang terancam akibat kenaikan muka air laut dan memaksa pemerintah membangun tanggul untuk melindungi infrastruktur serta lahan pertanian. “Keadaan memaksa kita untuk menghadapi dampak negatif akibat perubahan iklim,” ujarnya.

Sebagai bagian dari komitmen global tersebut, Indonesia telah menyerahkan dokumen Second Nationally Determined Contribution (Second NDC) kepada Sekretariat UNFCCC. Dokumen ini menjadi langkah penting dalam meningkatkan ambisi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim nasional.

Read also:  Riau Tawari Proyek Karbon Hutan Masuk Skema Nesting, Ada Tiga Skenario

Hashim menjelaskan bahwa penyusunan Second NDC dilakukan dengan mempertimbangkan target pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 8 persen serta aspirasi berbagai pemangku kepentingan, termasuk kalangan organisasi masyarakat sipil.

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq mengatakan bahwa Second NDC Indonesia memuat target penurunan emisi gas rumah kaca yang lebih ambisius dibandingkan dokumen Enhanced NDC sebelumnya.

Dalam dokumen terbaru tersebut, Indonesia menggunakan tingkat emisi tahun 2019 sebagai tahun dasar, dengan target puncak emisi gas rumah kaca sebesar 1,3 gigaton CO₂e untuk skenario rendah (low emission/LCCP-L) dan 1,4 gigaton CO₂e untuk skenario tinggi (high emission/LCCP-H) pada 2030, untuk kemudian menurun secara bertahap hingga 2035.

Read also:  PLN EPI Pilih Blue Carbon Mangrove untuk Dekarbonisasi dan Ketahanan Energi Pesisir

Sebagai perbandingan, dokumen Enhanced NDC sebelumnya memproyeksikan puncak emisi sebesar 1,9 gigaton CO₂e dengan upaya domestik (Countermeasure 1) dan 1,6 gigaton CO₂e dengan dukungan internasional (Countermeasure 2).

Target baru tersebut menunjukkan penurunan puncak emisi sebesar 8–17,5 persen dibandingkan proyeksi tahun 2030 dalam dokumen sebelumnya. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

KLH Luncurkan SIGN SMART Robust, Perkuat Transparansi Data Emisi Karbon Nasional

Ecobiz.asia – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) meluncurkan Sistem Inventarisasi Gas Rumah Kaca Nasional (SIGN SMART Robust) untuk memperkuat kualitas, transparansi, dan...

KLH Rancang Regulasi Perdagangan Karbon Sektor Limbah, Siapkan Peta Jalan

Ecobiz.asia – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) tengah menyiapkan regulasi dan peta jalan perdagangan karbon sektor limbah sebagai bagian dari penguatan implementasi...

Indonesia Siap Jual 30 Juta Ton Kredit Karbon FOLU ke Pasar Global Awal Juli 2026

Ecobiz.asia – Indonesia siap melakukan penjualan perdana kredit karbon sektor forest and other land use (FOLU) ke pasar global pada awal Juli 2026 dengan...

Cara Petani Manfaatkan Peluang Ekonomi melalui Perdagangan Karbon, Wamen LH: Jadi Tambahan Penghasilan

Ecobiz.asia – Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Diaz Hendropriyono, mendorong petani memanfaatkan peluang ekonomi dari perdagangan karbon melalui pembentukan...

ESDM Catat 120 Proyek Karbon Masuk Pipeline, Nilainya Capai Rp1,7 Triliun

Ecobiz.asia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat terdapat sekitar 120 proyek karbon sektor energi yang berada di pipeline perdagangan karbon nasional...

TOP STORIES

Pertamina dan BRIN Luncurkan Alat Pengubah Sampah Plastik Jadi Solar di Bantul

Ecobiz.asia – Pertamina melalui Pertamina Foundation bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Pemerintah Kabupaten Bantul meluncurkan alat pirolisis multikondensor Gen 5.0 (Faspol...

CBG Jadi Solusi Transisi dari LNG, Manfaatkan 130 Juta M3 Limbah Sawit

Ecobiz.asia - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mendorong pengembangan Compressed Biomethane Gas (CBG) berbasis limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill...

Tobat Ekologis, Suatu Pendekatan Ekoteologi

Oleh: Saiful Latief, M.Si (Pranata Humas Ahli Muda, Direktorat Inventarisasi GRK dan MPV, Deputi Bidang Pengendalian Perubahan Iklim dan TKNEK, Kementerian Lingkungan Hidup) Ecobiz.asia -...

Indonesia Launches SIGN SMART Robust to Strengthen Transparency of National Carbon Emissions Data

Ecobiz.asia — Indonesia’s Ministry of Environment/Environmental Control Agency (KLH/BPLH) has launched a new national greenhouse gas inventory platform called SIGN SMART Robust to improve...

KLH Luncurkan SIGN SMART Robust, Perkuat Transparansi Data Emisi Karbon Nasional

Ecobiz.asia – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) meluncurkan Sistem Inventarisasi Gas Rumah Kaca Nasional (SIGN SMART Robust) untuk memperkuat kualitas, transparansi, dan...