Ecobiz.asia – Pembiayaan inovatif dan keterlibatan masyarakat menjadi kunci untuk memperluas penerapan solusi pengelolaan perairan, mulai dari konservasi pesisir hingga penanganan sampah plastik. Isu tersebut mengemuka dalam hari ketiga Konferensi Air Internasional ke-11 (International Waters Conference/IWC-11) di Bali, Rabu (21/10/2026).
Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup Bidang Hubungan Internasional dan Diplomasi Lingkungan, Erik Teguh Primiantoro, mengatakan pengelolaan perairan membutuhkan tindak lanjut konkret di tingkat tapak, tidak hanya berupa pertukaran pengetahuan dan kajian ilmiah.
“Implementasi menjadi kata kunci. Kita harus mampu menghasilkan aksi nyata di tingkat tapak, tidak hanya untuk menjawab aspek lingkungan dan sains, tetapi juga mendorong kegiatan ekonomi berbasis lingkungan. Untuk itu, diperlukan skema pendanaan inovatif, termasuk dengan melibatkan sektor swasta, agar manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat,” kata Erik, yang juga menjadi Global Focal Point Indonesia untuk program International Waters dari Global Environment Facility (GEF).
Pada hari ketiga konferensi, para peserta membahas penerapan dan pengembangan berbagai inovasi pengelolaan perairan setelah mengikuti kunjungan lapangan sehari sebelumnya. Pembahasan mencakup keberlanjutan program, pembiayaan, dan pertukaran pengetahuan lintas negara.
Indonesia memperkenalkan sejumlah praktik pengelolaan lingkungan yang menghubungkan pelestarian alam dengan pengetahuan lokal, sains, budaya, dan ekonomi masyarakat. Di antaranya sistem pengairan subak di Bali, pengembangan kawasan berbasis geopark, konservasi pesisir dan laut, serta penanganan sampah plastik yang berpotensi mencemari perairan.
Perwakilan Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) untuk kawasan Mediterania, Christine Haffner-Sifakis, menyoroti pembiayaan campuran (blended finance) dan pengelolaan pengetahuan (knowledge management) sebagai aspek penting dalam memperkuat kerja sama internasional.
Menurut Christine, pertukaran pengalaman antarkawasan dapat membantu para mitra mengembangkan sinergi dan meningkatkan efektivitas kolaborasi dalam menghadapi tantangan pengelolaan perairan.
“Kami belajar banyak dari komunitas ini. Kami dapat mengembangkan sinergi, bekerja sama dengan lebih efektif, dan yang terpenting, terus membangun kemitraan yang kuat,” kata Christine.
Pembiayaan campuran memungkinkan pendanaan publik, dukungan lembaga internasional, dan modal swasta saling melengkapi untuk mendukung program lingkungan. Pendekatan tersebut dinilai relevan untuk memperluas penerapan solusi yang membutuhkan pendanaan berkelanjutan.
Sementara itu, perwakilan Pacific Community, Raymond Schuster, mengatakan pengelolaan sumber daya air perlu menggunakan pendekatan source to sea, yakni melihat keterkaitan ekosistem dari hulu hingga laut. Namun, keberhasilan pendekatan tersebut juga bergantung pada keterlibatan masyarakat dan pemangku kepentingan sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan.
“Hal yang paling penting untuk membangun keberlanjutan adalah memastikan para pemangku kepentingan terlibat dan memiliki rasa kepemilikan terhadap kegiatan maupun infrastruktur yang dibangun. Kita juga perlu memiliki sistem tata kelola yang baik agar pelaksanaannya semakin efektif,” ujar Raymond, yang bekerja di bidang sumber daya air, kebencanaan, dan perencanaan di kawasan Pasifik.
Raymond berharap pembelajaran dari IWC-11 dapat diterapkan dalam program-program Pacific Community di kawasan Pasifik. Ia juga memperkenalkan nilai tautua, yang bermakna melayani masyarakat dan kawasan, sebagai prinsip kerja organisasi tersebut.
IWC-11 menjadi forum bagi komunitas GEF untuk bertukar pengalaman dan memperkuat kolaborasi dalam pengelolaan perairan internasional. Melalui konferensi ini, Indonesia mendorong agar praktik baik dan inovasi yang dibahas dapat ditindaklanjuti melalui pendanaan, tata kelola, dan pelibatan masyarakat. ***




