Komitmen Iklim Indonesia Dinilai Lemah Lindungi Kesehatan, Polusi Udara Disorot

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Komitmen iklim Indonesia dinilai belum memadai dalam melindungi kesehatan masyarakat, terutama karena lemahnya pendanaan, pemantauan, dan pengendalian polusi udara. Dalam Healthy NDC Scorecard 2026 yang diterbitkan Global Climate and Health Alliance (GCHA), Indonesia menempati peringkat ke-69 dari 117 negara dengan skor 11 poin.

Laporan tersebut juga mencatat estimasi angka kematian terkait polusi udara di Indonesia sebesar 82,2 per 100.000 penduduk. GCHA menilai aspek kesehatan memang telah masuk dalam perencanaan iklim nasional, tetapi belum didukung alokasi anggaran yang jelas, perhitungan biaya dampak kesehatan, dan target pemantauan yang terukur.

Indonesia memperoleh penilaian rendah pada aspek ekonomi dan pendanaan, pemantauan dan implementasi, integrasi dampak kesehatan, manfaat kesehatan tambahan, transisi berkeadilan, serta polusi udara. Sementara itu, aspek aksi sektor kesehatan dan tata kelola terintegrasi dinilai cukup baik.

Read also:  Pertamina Uji Teknologi PertaPURE, Bidik Pemanfaatan Kembali Air Terproduksi pada Operasi Migas

Skor Indonesia juga berada di bawah rata-rata global sebesar 11,8 poin. Dalam laporan yang sama, Kamboja memperoleh 24 poin, Timor Leste 22 poin, dan Sri Lanka 19 poin.

GCHA menempatkan komitmen iklim Indonesia dalam kategori jalur pemanasan global “<4°C”, yang mengindikasikan risiko dampak sangat buruk terhadap kesehatan manusia. Secara global, baru 32% dokumen Nationally Determined Contribution (NDC) yang menghitung dampak kesehatan secara kuantitatif.

GCHA menilai Indonesia perlu memperjelas kaitan perubahan iklim dengan penyakit serta memasukkan polutan berbahaya, seperti black carbon atau karbon hitam dan partikulat (PM), ke dalam kebijakan iklim.

Read also:  PHR Zona 4 Catat Hasil Positif Uji Inovasi Teknik Batch Drilling dan Dual Completion di Prabumulih Field

Pemerintah juga didesak menetapkan target kualitas udara nasional yang selaras dengan pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), serta melibatkan Kementerian Kesehatan secara formal dalam penyusunan dan pelaksanaan NDC.

Koordinator Outreach and Advocacy CERAH Dzatmiati Sari menilai ketergantungan pada batu bara menjadi salah satu persoalan mendasar dalam kebijakan iklim Indonesia. Menurut dia, rencana pemanfaatan batu bara hingga 2060 berisiko memperpanjang paparan masyarakat terhadap pencemaran udara dan dampak kesehatan akibat perubahan iklim.

“Target NDC seharusnya jangan yang penting emisi turun, tetapi seberapa besar pemangkasan emisi yang harus dicapai agar menghasilkan lingkungan dan udara yang layak bagi masyarakat untuk hidup sehat. Jika tidak menyelesaikan masalah dari sumbernya, seperti penggunaan batu bara yang berlanjut, maka kita terus terjebak di emisi yang tinggi dan beban biaya kesehatan yang membengkak akibat dari energi fosil,” kata Dzatmiati dikutip Selasa (21/10/2026).

Read also:  Pertamina Uji Teknologi PertaPURE, Bidik Pemanfaatan Kembali Air Terproduksi pada Operasi Migas

Peneliti GCHA Dr. Nova Tebbe mengatakan Healthy NDC Scorecard digunakan untuk menilai sejauh mana pemerintah memasukkan kesehatan dalam perencanaan iklim, keselarasan dengan target pengurangan emisi, serta hubungan kebijakan iklim dengan angka kematian akibat polusi udara di tingkat nasional. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Pertamina Uji Teknologi PertaPURE, Bidik Pemanfaatan Kembali Air Terproduksi pada Operasi Migas

Ecobiz.asia — PT Pertamina (Persero) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menguji teknologi PertaPURE untuk mengolah air terproduksi (produced water) dari kegiatan produksi...

PHR Zona 4 Catat Hasil Positif Uji Inovasi Teknik Batch Drilling dan Dual Completion di Prabumulih Field

Ecobiz.asia — Pertamina Subholding Upstream Regional 1 Zona 4 menguji kombinasi batch drilling dan dual completion dalam pengembangan Sumur GNK-114 di Gunung Kemala, Prabumulih....

Rampungkan Proyek Strategis SNB AOI 1-3-5, Pertamina Hulu Mahakam Perkuat Pasokan Gas untuk Ketahanan Energi Nasional

Ecobiz.asia -- PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), salah satu anak perusahaan PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI), berhasil merampungkan Proyek Pengembangan Sisi Nubi Area of...

PHR Resmikan EPF Libo GS untuk Perkuat Produksi dan Keandalan Operasi Migas

Ecobiz.asia -- PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona Rokan mengoperasikan Early Production Facility (EPF) baru di Libo Gathering Station (GS), Kabupaten Siak, Riau, untuk...

NHM Kembangkan Pertanian Modern 10 Hektare di Kao Barat untuk Dukung Ketahanan Pangan

Ecobiz.asia -- PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) mendorong modernisasi sektor pertanian di Kecamatan Kao Barat, Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, melalui penerapan teknologi dan...

TOP STORIES

Cair! Minat Pendanaan PSEL Melonjak, Danantara Himpun 34 Lembaga Keuangan Calon Pemberi Pinjaman

Ecobiz.asia — Danantara Indonesia melalui PT Danantara Investment Management (DIM) dan PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) menetapkan 34 institusi keuangan sebagai calon pemberi...

Pusat Data Butuh Tambahan 20 GW, Bahlil Siapkan Energi Bersih untuk Batam–Karimun–Bintan

Ecobiz.asia — Indonesia membutuhkan tambahan pasokan listrik sekitar 20 gigawatt (GW) untuk memenuhi kebutuhan pengembangan pusat data. Pemerintah menyiapkan Batam, Karimun, dan Bintan sebagai...

Progres PLTS Terapung Tembesi Batam Capai 74%, Proyek 46 MWp Masuki Tahap Lanjutan

Ecobiz.asia — Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung Tembesi berkapasitas 46 megawatt peak (MWp) di Waduk Tembesi, Batam, Kepulauan Riau, telah mencapai sekitar...

KLH Dorong Pemda Beralih ke Ekonomi Restoratif, Karbon Bisa Jadi Sumber Pembiayaan

Ecobiz.asia – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mendorong pemerintah daerah menggeser pendekatan pembangunan dari model ekstraktif menuju ekonomi restoratif yang tidak hanya...

Pertamina Kerahkan 108 Mobil Tangki, Stok BBM Bali Capai 48 Juta Liter

Ecobiz.asia -- PT Pertamina (Persero) mengerahkan 108 mobil tangki dan meningkatkan pengawasan pasokan bahan bakar minyak (BBM) di Bali, dengan stok mencapai 48 juta...