Ecobiz.asia – PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) mencatat nilai tambah (added value creation) Rp3,73 triliun dari berbagai inovasi dan program perbaikan operasional yang dikembangkan pekerjanya. Nilai tersebut terdiri atas pertumbuhan pendapatan Rp2,28 triliun, penghindaran biaya Rp1,07 triliun, dan penghematan biaya Rp383,35 miliar.
Capaian itu dipaparkan dalam Continuous Improvement & Innovation Forum (CIIF) 2026 yang berlangsung pada 28–30 September 2026. Forum tersebut menjadi ajang evaluasi dan pengembangan inovasi untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas, keselamatan, serta keandalan operasi hulu migas.
Direktur Utama PHR Muhamad Arifin mengatakan inovasi diperlukan untuk menghadapi tantangan industri energi, termasuk dinamika geopolitik, krisis iklim, dan tekanan ekonomi.
“Di tengah kondisi tersebut, Pertamina memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan energy trilemma di Indonesia, yang mencakup energy security, energy equity, dan energy sustainability. Karena itu, salah satu kunci bagi Pertamina untuk terus tumbuh, maju, dan unggul adalah dengan terus mendorong inovasi,” kata Arifin dalam keterangannya, Selasa (13/10/2026).
CIIF 2026 menerima 822 pengajuan ide. Dari jumlah tersebut, sebanyak 541 gugus mengikuti seleksi makalah dan 109 gugus terpilih untuk mempresentasikan inovasinya. Forum ini melibatkan 679 peserta dalam penilaian program Continuous Improvement Program (CIP).
Sejumlah inovasi yang dikembangkan menyasar persoalan operasional. Di Zona Rokan, misalnya, penerapan Robotic Process Automation (RPA) pada penyiapan material Well Service Workover (WSWO) Sumatera Heavy Oil (SHO) membantu mengurangi pekerjaan manual dan mempercepat kesiapan material untuk operasi.
Sementara itu, di Struktur Benuang, Pertamina EP Zona 4 menerapkan metode batch drilling untuk mengoptimalkan pekerjaan pengeboran secara berkelompok. Pendekatan ini ditujukan untuk mengurangi waktu tidak produktif dan meningkatkan pemanfaatan sumber daya pengeboran.
PHR juga mengembangkan Digital and Quality Management melalui kampanye empat pilar Quality Management di Regional 1–Sumatra. Dalam rangkaian CIIF 2026, perusahaan meluncurkan awal Community of Practice Quality Management bernama QUICK (Quality Upstream Improvement, Collaboration & Knowledge) sebagai wadah berbagi pengetahuan dan pengembangan praktik perbaikan berkelanjutan.
Selain mendorong efisiensi dan produktivitas, forum tersebut membahas penguatan budaya mutu dan organisasi pembelajar agar inovasi dapat diterapkan secara konsisten dalam kegiatan operasional.
PHR menyatakan inovasi yang dihasilkan melalui CIIF diharapkan tidak berhenti pada kompetisi, tetapi terus diterapkan dan direplikasi di wilayah operasi lain sesuai kebutuhan serta potensi manfaatnya. ***




