Pasokan Kredit Karbon Melimpah, Indonesia Perlu Perkuat Permintaan Pasar

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Tantangan terbesar pengembangan pasar karbon Indonesia saat ini bukan lagi kualitas kredit karbon yang dihasilkan, melainkan bagaimana menciptakan permintaan yang mampu menyerap potensi pasokan yang sangat besar dari berbagai proyek pengurangan emisi.

Untuk itu, kerja sama dengan negara-negara yang memiliki komitmen kuat terhadap target net zero emission dan pengembangan sistem perdagangan emisi, terutama Singapura, Jepang, dan Korea Selatan menjadi sangat penting.

“Salah satu tantangan yang dihadapi saat ini adalah dari sisi permintaan. Jika semuanya berjalan lancar, maka akan ada sekitar 240 juta kredit karbon Indonesia yang bisa masuk ke pasar global,” kata Chairman Indonesia Carbon Trade Association (IDCTA) Riza Suarga dalam webinar Gearing Up for Article 6 in Southeast Asia: Lessons from Malaysia and Indonesia yang diselenggarakan ISEAS – Yusof Ishak Institute, Rabu (17/6/2026).

Read also:  KLH Luncurkan SIGN SMART Robust, Perkuat Transparansi Data Emisi Karbon Nasional

Riza menjelaskan, Indonesia telah memiliki fondasi regulasi yang semakin kuat untuk mendukung kredit karbon yang berkualitas dan berintegritas tingi setelah terbitnya Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang penyelenggaraan nilai ekonomi karbon.

Regulasi tersebut mengatur peta jalan perdagangan karbon, skema sertifikasi, mekanisme otorisasi untuk transaksi internasional di bawah Pasal 6 Persetujuan Paris, hingga penerapan corresponding adjustment.

Ia menilai pemerintah juga berupaya meningkatkan interoperabilitas sistem registri karbon Indonesia dengan standar dan registri internasional agar lebih mudah diakses oleh pembeli global. Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan daya tarik kredit karbon Indonesia di pasar internasional.

Read also:  KLH Rancang Regulasi Perdagangan Karbon Sektor Limbah, Siapkan Peta Jalan

Di sisi lain, Indonesia memiliki potensi pasokan kredit karbon yang sangat besar. Riza menyebut terdapat sekitar 480 proyek karbon berbasis alam yang saat ini berada dalam berbagai tahapan pengembangan. Dari jumlah tersebut, beberapa proyek kehutanan yang telah tervalidasi standar Verra ditargetkan mulai ditampilkan dan diperdagangkan melalui Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) pada Juli 2026.

Menurut dia, sektor kehutanan menjadi salah satu sektor yang paling progresif dalam menyiapkan proyek karbon. Selain delapan proyek yang siap diperdagangkan, puluhan proyek lainnya masih berada dalam tahap pengembangan dan validasi.

Meski demikian, keberhasilan pasar karbon nasional tetap bergantung pada kemampuan menciptakan permintaan yang berkelanjutan. Untuk itu, Indonesia menaruh perhatian pada negara-negara yang telah menunjukkan komitmen kuat terhadap target net zero emission dan pengembangan sistem perdagangan
emisi (ETS).

Read also:  Cara Petani Manfaatkan Peluang Ekonomi melalui Perdagangan Karbon, Wamen LH: Jadi Tambahan Penghasilan

“Tanpa mengurangi rasa hormat kepada Negara-negara Eropa, kami melihat Singapura, Jepang, dan Korea Selatan sangat serius terkait pencapaian target net zero emission dan ETS,” kata Riza.

Riza mengatakan ketiga negara tersebut memiliki peran penting dalam pembentukan pasar karbon regional karena melibatkan sektor swasta dalam upaya dekarbonisasi. Indonesia berharap kerja sama dengan negara-negara tersebut dapat membantu menyerap pasokan kredit karbon domestik sekaligus memperkuat perdagangan karbon lintas batas di kawasan Asia.

Turut menjadi pembicara pada webinar tersebut Managing Partner Pure Planet Projects Kanchuya Sukdheva, dan Presiden Malaysia Carbon Market Association (MCMA) Renard Siew. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

KLH Luncurkan SIGN SMART Robust, Perkuat Transparansi Data Emisi Karbon Nasional

Ecobiz.asia – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) meluncurkan Sistem Inventarisasi Gas Rumah Kaca Nasional (SIGN SMART Robust) untuk memperkuat kualitas, transparansi, dan...

KLH Rancang Regulasi Perdagangan Karbon Sektor Limbah, Siapkan Peta Jalan

Ecobiz.asia – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) tengah menyiapkan regulasi dan peta jalan perdagangan karbon sektor limbah sebagai bagian dari penguatan implementasi...

Indonesia Siap Jual 30 Juta Ton Kredit Karbon FOLU ke Pasar Global Awal Juli 2026

Ecobiz.asia – Indonesia siap melakukan penjualan perdana kredit karbon sektor forest and other land use (FOLU) ke pasar global pada awal Juli 2026 dengan...

Cara Petani Manfaatkan Peluang Ekonomi melalui Perdagangan Karbon, Wamen LH: Jadi Tambahan Penghasilan

Ecobiz.asia – Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Diaz Hendropriyono, mendorong petani memanfaatkan peluang ekonomi dari perdagangan karbon melalui pembentukan...

ESDM Catat 120 Proyek Karbon Masuk Pipeline, Nilainya Capai Rp1,7 Triliun

Ecobiz.asia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat terdapat sekitar 120 proyek karbon sektor energi yang berada di pipeline perdagangan karbon nasional...

TOP STORIES

100×100 Luncurkan Pendanaan US$100 Juta, Bidik Bangun 50 Perusahaan Iklim di Asia Tenggara dan India

Ecobiz.asia – Perusahaan venture builder dan investasi iklim berbasis di Singapura, 100x100, meluncurkan Pendanaan Tahap Kedua (Fund II) dengan target dana kelolaan sebesar US$100...

Pelantikan Pejabat Administrator dan Pengawas (Eselon III dan IV) Kementerian ESDM, Ini Daftarnya

Ecobiz.asia - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot melantik sejumlah pejabat Pejabat Administrator dan Pejabat Pengawas (setara dengan Eselon III dan...

100×100 Launches US$100 Million Fund II to Build 50 Climate Companies Across Southeast Asia and India

Ecobiz.asia — Singapore-based climate venture builder and investment firm 100x100 has launched its second fund targeting US$100 million, aiming to create and scale 50...

PHKT Tambah Produksi Hampir 1.900 BOPD dari Lapangan Sejadi, Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Ecobiz.asia -- PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) kembali mencatatkan capaian positif dengan menambah produksi minyak hampir 1.900 barel per hari (BOPD) dari Lapangan...

Kemenhut Luncurkan DSS Jaga Rimba, Cegah Tumpang Tindih Perizinan Kehutanan

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) meluncurkan Decision Support System (DSS) Jaga Rimba, platform digital terintegrasi yang dirancang untuk mencegah tumpang tindih perizinan, memperkuat pengawasan...