Ecobiz.asia – Indonesia memperkuat diplomasi energi bersih dengan menggandeng Madagascar, Nepal, Kenya, dan Jerman dalam forum South-South and Triangular Cooperation on Renewable Energy (SSTC RE) di Lombok, Nusa Tenggara Barat, pada 19–23 Mei 2026.
Melalui forum tersebut, Indonesia mendorong kolaborasi antarnegara berkembang dalam pengembangan energi terbarukan, transfer teknologi, hingga penguatan kapasitas sumber daya manusia guna mempercepat transisi energi yang inklusif dan berkelanjutan.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengatakan transisi energi kini tidak hanya menjadi agenda lingkungan, tetapi juga strategi memperkuat ketahanan energi dan ekonomi nasional.
“Indonesia memandang transisi energi bukan hanya sebagai agenda lingkungan, tetapi juga jalur strategis untuk memperkuat ketahanan energi, ketahanan ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, kolaborasi internasional menjadi sangat penting untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan yang inklusif dan berkelanjutan,” ujar Eniya dalam sambutannya, Rabu (20/5).
Forum SSTC RE membahas berbagai isu strategis pengembangan energi bersih, mulai dari mikrohidro, integrasi jaringan listrik, waste-to-energy, biomassa, efisiensi energi, hingga pengembangan panas bumi dan sistem energi terbarukan untuk pulau kecil seperti Lombok.
Kegiatan tersebut turut melibatkan pemerintah, akademisi, NGO, BUMN, hingga sektor swasta dari Indonesia, Madagascar, Nepal, Kenya, dan Jerman sebagai bagian dari penguatan kolaborasi multipihak dalam mendukung transisi energi global.
Eniya mengungkapkan Indonesia memiliki potensi energi terbarukan mencapai 3.687 gigawatt (GW) yang berasal dari energi surya, hidro, panas bumi, angin, bioenergi, hingga energi laut. Potensi tersebut terus didorong melalui berbagai program seperti PLTS atap, PLTS terapung, biofuel, hingga sustainable aviation fuel (SAF).
Pemerintah juga memperkuat program biofuel nasional dengan menyiapkan implementasi biodiesel B50 yang direncanakan mulai berlaku pada 1 Juli 2026 setelah melalui berbagai pengujian di sektor otomotif maupun non-otomotif.
Dalam forum tersebut, Indonesia berbagi pengalaman pengembangan mikrohidro bersama Madagascar, integrasi jaringan listrik bersama Nepal, serta pengembangan panas bumi bersama Kenya.
Principal Advisor ENTRI-GIZ Indonesia ASEAN, Catoer Wibowo, mengatakan kerja sama Selatan-Selatan dan triangular cooperation telah berkembang signifikan sejak 2023 dengan lebih dari 300 kegiatan koordinasi yang melibatkan 665 personel dan 143 institusi.
“Pertemuan di Lombok ini bukan hanya menjadi penegasan kembali komitmen yang telah dibangun, tetapi juga peluang untuk memperkuat kemitraan, mendorong dialog yang inklusif, dan mewujudkan langkah konkret dalam mengurangi ketimpangan energi serta mempercepat transisi energi yang adil,” ujar Catoer.
Sementara itu, Acting Director General Energy and Petroleum Regulatory Authority (EPRA) Kenya, Joseph Odongo Oketch, menyoroti pentingnya kerja sama Indonesia dan Kenya dalam pengembangan panas bumi.
“Kenya merupakan salah satu negara penghasil geothermal terbesar di dunia dan Indonesia berada di posisi berikutnya. Kami telah menjalin kemitraan dengan Indonesia untuk belajar bagaimana memperbaiki pengelolaan sumber daya geothermal kami,” ujarnya.
Dari Nepal, President of Renewable Energy Confederation of Nepal (RECON), Kushal Gurung, menyampaikan minat memperkuat kolaborasi bisnis dengan Indonesia di sektor mikrohidro dan waste-to-energy, termasuk transfer teknologi energi terbarukan.
Sementara itu, Executive Secretary Rural Electrification Development Agency (ADER) Madagascar, Joelinet Vanomaro, berharap forum tersebut dapat membuka peluang kerja sama pendidikan dan pertukaran pengajar antaruniversitas di kedua negara.
Eniya menegaskan keberhasilan transisi energi membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, akademisi, industri, organisasi masyarakat, media, hingga komunitas lokal.
“Melalui kerja sama dan kolaborasi yang kuat, kita dapat mempercepat pengembangan teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta memperluas manfaat energi bersih bagi masyarakat menuju masa depan energi yang lebih berkelanjutan dan inklusif,” tutupnya. ***



