Ecobiz.asia — Kebutuhan energi yang besar dan berkelanjutan di sektor industri mendorong semakin banyak pelaku manufaktur mengintegrasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) ke dalam operasionalnya.
PT Muliaglass dan PT Muliakeramik Indahraya berkolaborasi dengan PT Xurya Daya Indonesia (Xurya) melalui pengoperasian PLTS Atap berkapasitas 22,5 MW, yang menjadi instalasi terbesar di Indonesia, berlokasi di Komplek Mulia Industri, Cikarang, Bekasi.
Instalasi ini mencakup 36.862 panel surya yang terpasang di area seluas 122.783 m², setara dengan 17 kali luas lapangan sepak bola Gelora Bung Karno.
Secara lingkungan, instalasi ini diproyeksikan mampu menekan lebih dari 26,8 juta kilogram emisi karbon dioksida (CO₂) per tahun, setara dengan penyerapan karbon oleh 198.258 pohon, dan mengurangi ketergantungan terhadap batu bara hingga 20.000 kilogram per tahun.
Dari sisi operasional, sistem ini menghasilkan rata-rata 68.500 kWh listrik per hari untuk mendukung kebutuhan listrik fasilitas produksi yang beroperasi 24 jam.
Ekman Tjandranegara, Direktur PT Mulia Industrindo Tbk, menyatakan PLTS Atap ini merupakan langkah strategis perusahaan untuk memperkuat operasional berkelanjutan sekaligus menjaga kualitas dan kontinuitas produksi.
“Dengan kapasitas 22,5 MW, proyek ini menegaskan komitmen kami dalam menjalankan agenda keberlanjutan perusahaan melalui pemanfaatan energi surya skala besar di sektor industri. Kami menggandeng Xurya sebagai mitra berpengalaman agar instalasi berjalan selaras dengan operasional,” ujarnya.
Sementara itu Pemerintah terus berkomitmen untuk meningkatkan peran energi baru terbarukan dalam bauran energi nasional. Hingga akhir tahun 2025, pemanfaatan energi baru terbarukan dalam bauran energi nasional mencapai 15,75%.
Namun, capaian ini masih cukup jauh dari target bauran yang telah ditetapkan. Di tengah tantangan perubahan iklim, ketidakpastian harga energi fosil sebagai dampak dinamika geopolitik global, serta kebutuhan listrik dalam negeri yang terus meningkat, PLTS Atap hadir sebagai solusi yang relevan, fleksibel, dan dapat diimplementasikan secara cepat, termasuk di sektor Industri.
Pemanfaatan PLTS Atap di sektor industri sejalan dengan upaya pemerintah untuk memperkuat swasembada energi dan menjalankan transisi energi menuju Net Zero Emission (NZE).
Harris, S.T., M.T., Sekretaris Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, menyampaikan apresiasi atas pencapaian PT Muliaglass dan PT Muliakeramik Indahraya dalam mengimplementasikan PLTS Atap dengan kapasitas 22,5 MW. Menurut Harris Capaian ini sebagai bagian penting dari transisi energi nasional, memperkuat swasembada energi serta mengurangi emisi gas rumah kaca.
Sebagai perusahaan manufaktur yang beroperasi 24/7, PT Muliaglass dan PT Muliakeramik Indahraya membutuhkan pasokan energi yang stabil dan andal. PLTS Atap ini dirancang secara matang agar terhubung dengan sistem produksi tanpa mengganggu proses maupun kualitas hasil produksi, sehingga tetap selaras dengan operasional pabrik.
Eka Himawan, Managing Director, Xurya, mengatakan proyek ini menunjukkan bahwa energi surya tidak hanya relevan, tetapi telah menjadi bagian dari strategi operasional industri berskala besar di Indonesia. Lebih dari itu, proyek ini juga menjadi bukti nyata kapabilitas kami dalam menghadirkan solusi PLTS Atap untuk industri yang beroperasi 24/7, di mana proses instalasi berjalan beriringan dan terintegrasi tanpa mengganggu aktivitas produksi.
“Dengan dukungan tim ahli dan tenaga kerja lokal, perencanaan yang matang, serta koordinasi yang erat dengan klien, kami memastikan setiap tahapan proyek berjalan optimal, andal, dan selaras dengan kebutuhan operasional klien di lingkungan industri dengan tingkat kompleksitas yang tinggi. Kami berharap semakin banyak pelaku industri melihat energi surya sebagai bagian dari strategi bisnis yang berkelanjutan,” kata Eka.
Sementara itu Yondri Zulfadli, Vice President Pengelolaan Penjualan, PT PLN (Persero), menambahkan hingga 2026, kapasitas PLTS Atap terpasang telah mencapai sekitar 861,14 MWp dengan total 11.840 pelanggan, serta kapasitas inverter sekitar 768,3 MW, dengan sekitar 81% kapasitas terpasang berasal dari sektor industri.
Menurut Yondri, pencapaian ini tidak hanya menjadi milestone penting bagi pelaku industri, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi antara pemerintah dan sektor industri berjalan dalam mendukung transisi energi.***



