Ecobiz.asia — Di atas hamparan air Waduk Cirata, panel-panel surya terapung membentang rapi mengikuti kontur perairan. Sekilas, ia tampak seperti instalasi teknologi modern yang kontras dengan lanskap alam di sekitarnya. Namun di balik struktur baja dan modul fotovoltaik itu, PLTS Terapung Cirata menyimpan cerita lebih besar: tentang keselamatan kerja, perlindungan lingkungan, dan transformasi energi Indonesia.
Sejak tahap konstruksi hingga memasuki fase operasi dan pemeliharaan, PLTS Terapung Cirata mencatatkan capaian yang jarang ditemui pada proyek infrastruktur berskala besar. Lebih dari tiga juta jam kerja telah dilalui tanpa satu pun Lost Time Injury (LTI) atau kecelakaan kerja yang menyebabkan hilangnya waktu kerja.
Tidak hanya itu, proyek ini juga berjalan tanpa insiden kerusakan properti, dengan kondisi lingkungan sosial masyarakat sekitar yang tetap aman, selamat, kondusif, dan berkelanjutan.
Capaian ini bukan semata angka, tetapi bukti bahwa standar keselamatan, kesehatan kerja, dan perlindungan lingkungan bisa berjalan seiring dengan pembangunan infrastruktur energi berskala besar.
“Alhamdulillah kita sudah lebih dari 3 juta jam kerja bahkan dari awal sampai saat ini tidak ada insiden apapun dan ini yang menjadi achievement bagi kami semua dan Alhamdulillah di tahun ini kami memperoleh penghargaan Subroto Award dan ICS Sustainability Award 2025 karena kami mampu menjaga keselamatan, kami mampu menjaga lingkungan dan sosial masyarakat,” ujar Respati Adi Katmoyo, Outreach and Stakeholder Manager PT Pembangkitan Jawa Bali Masdar Solar Energi (PT PMSE), saat kunjungan media ke lokasi PLTS Cirata, Rabu (16/12/2025).
Lebih dari sekadar pembangkit listrik, keberadaan PLTS Terapung Cirata juga membawa dampak ekologis yang menarik. Struktur panel surya yang mengapung di permukaan waduk berpotensi membantu menjaga, bahkan memperbaiki, kualitas air—terutama jika kondisi perairan sebelumnya kurang optimal. Area di bawah panel menciptakan ruang teduh yang dimanfaatkan ikan untuk berlindung dan berkembang biak.
“Meningkatnya populasi ikan ini memberi nilai tambah bagi komunitas dan masyarakat sekitar,” kata Respati. Bagi warga yang menggantungkan hidup pada perairan waduk, perubahan tersebut bukan sekadar isu lingkungan, melainkan juga peluang ekonomi.
Keberhasilan PLTS Terapung Cirata juga memicu multiplier effect berskala nasional. Proyek ini membuka jalan bagi tumbuhnya industri baru di dalam negeri, khususnya industri floater dan panel surya berteknologi tinggi dengan standar kelas dunia.
Lebih jauh, proyek ini turut membangun kepercayaan lembaga pendanaan domestik terhadap proyek energi terbarukan skala besar, dengan skema pembiayaan dan tingkat bunga yang semakin kompetitif.
Dampaknya terasa hingga ke tingkat global. Keberhasilan Cirata meningkatkan kepercayaan internasional terhadap iklim investasi energi terbarukan di Indonesia, sekaligus membantu menurunkan harga listrik dari sumber energi bersih agar mampu bersaing dengan pembangkit berbasis fosil.
Tak heran jika proyek ini kemudian menjadi referensi bagi pengembangan PLTS terapung lain di berbagai daerah, seperti Karangkates di Jawa Timur, Tembesi di Batam, Saguling dan Jatigede di Jawa Barat, hingga Kedung Ombo di Jawa Tengah.
Cerita Cirata belum berhenti. PLTS Terapung ini masih menyimpan potensi pengembangan lanjutan dengan tambahan kapasitas hingga 550 MWac. Studi pengembangan saat ini tengah berjalan dan ditargetkan rampung pada 2032.
Jika terealisasi, total kapasitas terpasang PLTS Cirata akan mencapai sekitar 700 MWac, menjadikannya PLTS terapung terbesar di dunia.
Sebagai PLTS terapung skala besar pertama yang dibangun dan dioperasikan di Indonesia, Cirata juga berfungsi sebagai “laboratorium hidup” bagi pengembangan sumber daya manusia. Proyek ini telah melahirkan banyak tenaga ahli dan terampil di bidang PLTS terapung dan energi surya secara umum.
Tidak sedikit pihak yang menjadikan Cirata sebagai rujukan utama untuk mempelajari operasi dan pemeliharaan PLTS terapung, sekaligus pengembangan teknologi terkini, mulai dari inspeksi menggunakan drone berbasis kecerdasan buatan hingga sistem O&M berbasis Enterprise Asset Management.
Dari sisi produksi energi, sepanjang 2024 PLTS Terapung Cirata berkapasitas 145 MWac mampu menghasilkan listrik hijau sebesar 279 GWh. Angka ini setara dengan kebutuhan listrik sekitar 50.000 rumah tangga, sekaligus berkontribusi menekan emisi karbon hingga 214.000 ton CO₂ per tahun.
Tarif listriknya yang lebih rendah dibandingkan Biaya Pokok Penyediaan (BPP) setempat juga membantu menurunkan biaya pembangkitan listrik di wilayah tersebut.
Teknologi yang digunakan pun dirancang khusus untuk kondisi ekstrem pembangkit surya terapung. Modul PV yang terpasang memiliki efisiensi 21 persen, konstruksi kaca ganda untuk kekuatan dan kekakuan, enkapsulasi POA yang tahan terhadap kelembapan tinggi, serta sel tipe-N untuk mengurangi risiko potential-induced degradation (PID).
Dengan garansi daya hingga 30 tahun dan total sekitar 340.000 modul, PLTS Cirata dirancang untuk beroperasi andal dalam jangka panjang.
Berlokasi di Waduk Cirata yang mencakup wilayah Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Purwakarta, PLTS Terapung Cirata terhubung ke sistem kelistrikan melalui Gardu Induk Tegangan Tinggi Cirata yang berjarak sekitar empat kilometer dari lokasi pembangkit.
Proyek ini didanai melalui penyertaan modal sponsor serta pembiayaan dari konsorsium bank komersial internasional melalui PT PMSE, perusahaan patungan antara PJBI dan Masdar, dengan dukungan Standard Chartered Bank, Sumitomo Mitsui Banking Corporation, dan Société Générale.
Di Cirata, listrik hijau tidak hanya mengalir ke jaringan, tetapi juga membawa cerita tentang bagaimana transisi energi dapat berjalan seiring dengan keselamatan, kelestarian lingkungan, dan manfaat nyata bagi masyarakat.***




