Ecobiz.asia – PT Patra Drilling Contractor (PDC) mengajak 16 awak media nasional melihat langsung kegiatan pemberdayaan masyarakat dan operasional layanan Food & Lodging Services (FLS) yang mendukung aktivitas pengeboran migas di Indramayu, Jawa Barat.
Kegiatan tersebut berlangsung dalam Media Gathering 2026 pada 24–25 September 2026. Para peserta yang terdiri atas pemimpin redaksi, editor, dan reporter mengunjungi program pemberdayaan Tempesantren di Pondok Pesantren Tarbiyatul Ath’fal serta salah satu dapur FLS yang melayani kebutuhan operasional Rig PDSI #15.3/N110-M.
Direktur Utama PDC Hery Lesmana mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat komunikasi dengan media mengenai bisnis dan kontribusi perusahaan dalam industri hulu migas.
“Melalui forum ini, kami ingin mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat sinergi dengan rekan-rekan media dalam membangun pemahaman publik terhadap industri hulu migas nasional, khususnya bisnis dan kontribusi PDC,” ujar Hery.
Dalam kunjungan hari pertama, awak media melihat program Tempesantren yang dikembangkan PDC sejak Juli 2025 di Pondok Pesantren Tarbiyatul Ath’fal, Desa Temiyangsari, Kecamatan Kroya. Program tersebut mengembangkan usaha produksi tempe sebagai salah satu sumber pendapatan pesantren.
PDC memberikan dukungan berupa pembangunan rumah produksi, peralatan pengolahan, serta pelatihan produksi, pemasaran, dan pengelolaan usaha.
Kapasitas produksi Tempesantren kini telah meningkat dari maksimal sekitar 40 kilogram menjadi lebih dari 100 kilogram per hari. Produk tersebut juga telah dipasok ke tiga Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah sekitar untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dapur FLS Layani 180 Pekerja
Pada hari kedua, peserta mengunjungi dapur FLS PDC yang melayani kebutuhan konsumsi pekerja di Rig PDSI #15.3/N110-M.
Area Coordinator FLS Jawa PDC Dhandy Yaneldo mengatakan layanan tersebut mencakup penyediaan makanan dan minuman serta kebersihan porta camp.
“Layanan PDC di Rig PDSI #15.3/N110-M mencakup penyediaan makanan dan minuman serta layanan kebersihan porta camp,” kata Dhandy.
Dapur tersebut dioperasikan lima personel yang terdiri atas cook, baker, dan tenaga pendukung. Setiap hari, mereka menyiapkan kebutuhan konsumsi sekitar 180 person on board (POB) dalam empat waktu penyajian, yakni sarapan, makan siang, camilan sore, dan makan malam.
Dhandy mengatakan pengelolaan makanan dilakukan mulai dari pemilihan bahan baku, penyimpanan, pengolahan hingga penyajian. Setiap tahapan menjalani pemeriksaan mutu untuk menjaga kebersihan, keamanan pangan, dan konsistensi layanan.
“Kelancaran operasi rig turut didukung oleh kualitas makanan dan minuman yang dikonsumsi para pekerja. Karena itu, kami harus memastikan seluruh proses pengolahan dan penyajian dijalankan sesuai standar keamanan pangan dan kebutuhan operasional hulu migas,” ujarnya. ***





