Kebutuhan Listrik Data Center Diproyeksi Tembus 32 GW pada 2032

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Kebutuhan listrik industri data center di Indonesia diproyeksikan mencapai sekitar 32 gigawatt (GW) pada 2032, atau meningkat lebih dari lima kali lipat dalam lima tahun. Pertumbuhan tersebut sekaligus membuka potensi investasi sektor data center hingga US$20 miliar dalam tiga sampai lima tahun mendatang.

Direktur Pembinaan Ketenagalistrikan Strategis, Ditjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Andriah Feby Misna mengatakan peningkatan kebutuhan listrik tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pengembangan infrastruktur ketenagalistrikan dan ekonomi digital nasional.

“Pertumbuhan kebutuhan sektor data center meningkat lebih dari lima kali lipat hanya dalam lima tahun,” ujar Feby dalam Data Center Power Forum di Tangerang, Rabu (23/9/2026).

Read also:  Hotspot Karhutla Turun 121 Titik, Chinook Jepang Siap Bantu Pemadaman

Menurut Feby, potensi investasi industri data center dalam tiga hingga lima tahun ke depan diperkirakan mencapai US$15–20 miliar. Saat ini terdapat lebih dari 60 calon investor dengan sekitar 40 proyek data center dalam pipeline pemantauan pemerintah.

Pertumbuhan permintaan listrik tersebut mendorong pemerintah memperkuat sistem kelistrikan, terutama untuk mengantisipasi konsentrasi kebutuhan listrik di sistem Jawa-Madura-Bali (Jamali).

Pemerintah juga mendorong diversifikasi lokasi data center ke luar Jawa, antara lain Batam dan Kepulauan Riau, serta sejumlah wilayah yang memiliki akses terhadap sistem kabel laut internasional seperti Semarang, Batang, dan Manado.

Read also:  Pemerintah Kebut PLTS 100 GW, Investasi Dibutuhkan Capai US$73 Miliar

Di sisi lain, pemerintah perlu memastikan pertumbuhan data center sejalan dengan agenda penyediaan listrik bersih. Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Ditjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Ahmad Amiruddin mengatakan pemerintah tetap berkomitmen mempercepat pengembangan energi terbarukan untuk mencapai target net zero emission (NZE) pada 2060 atau lebih cepat.

“Indonesia tetap berkomitmen penuh untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan dan mencapai target emisi nol bersih (Net Zero Emission) pada tahun 2060 atau lebih cepat,” kata Ahmad dalam konferensi Electricity Connect 2026 di Tangerang, Selasa (22/9/2026).

Menurut Ahmad, transisi energi harus tetap memperhatikan keandalan pasokan, keterjangkauan, akses yang inklusif, dan keberlanjutan.

Read also:  Hilirisasi dan Transisi Energi Kini Dikoordinasikan Satu Pintu, Bahlil Jadi Menko

Hingga Juli 2026, kapasitas terpasang pembangkit listrik nasional mencapai sekitar 109 GW, dengan pembangkit EBT menyumbang 15% atau sekitar 16,3 GW. Produksi listrik mencapai 296,5 terawatt hour (TWh), sementara pembangkit berbahan bakar batu bara masih menyumbang 62%.

Dalam RUPTL PLN 2025–2034, pemerintah menargetkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 GW, dengan 61% berasal dari EBT. Rencana tersebut juga mencakup pengembangan energy storage, termasuk baterai dan pumped storage, serta pembangunan jaringan transmisi baru sepanjang 48.000 kilometer sirkuit untuk mendukung interkoneksi antarpulau atau Super Grid. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

PSEL Palembang Hasilkan Listrik 21,55 MW, Siap Beroperasi Penuh Mulai Desember

Ecobiz.asia — Fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Palembang telah menghasilkan listrik 21,55 megawatt (MW), melampaui capaian awal yang diperkirakan sekitar 20 MW....

Prabowo Resmikan 11 Proyek Hilirisasi Nikel Senilai US$10,2 Miliar di IWIP

Ecobiz.asia — Presiden Prabowo Subianto meresmikan komersialisasi dan groundbreaking 11 proyek dalam ekosistem hilirisasi nikel di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah,...

Populasi Satwa Liar Global Turun 73%, Peluang Pemulihan Tumbuh di Indonesia

Ecobiz.asia — Populasi satwa liar yang dipantau di dunia turun rata-rata 73% dalam 52 tahun, tetapi sejumlah pemulihan spesies menunjukkan bahwa tren kehilangan keanekaragaman...

Kepatuhan Produsen Rendah, KLH Rancang Ulang Permen Peta Jalan Pengelolaan Sampah

Ecobiz.asia — Rendahnya kepatuhan produsen dalam menjalankan tanggung jawab pengurangan sampah mendorong Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) merancang ulang regulasi tentang pengurangan...

Satgas PKH Kuasai Kembali 6,21 Juta Hektare Kawasan Hutan Jadi Sawit, 14.633,79 Hektare Jadi Tambang

Ecobiz.asia — Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) telah menguasai kembali kawasan hutan seluas 6.206.212,14 hektare pada sektor perkebunan sawit dan 14.633,79 hektare...

TOP STORIES

PSEL Palembang Hasilkan Listrik 21,55 MW, Siap Beroperasi Penuh Mulai Desember

Ecobiz.asia — Fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Palembang telah menghasilkan listrik 21,55 megawatt (MW), melampaui capaian awal yang diperkirakan sekitar 20 MW....

Parlemen Godok RUU Perubahan Iklim Berkeadilan, Jaga Kepastian Aturan Proyek Karbon

Ecobiz.asia – Parlemen mulai menyiapkan pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan Iklim Berkeadilan untuk memberikan kepastian dan menjaga konsistensi regulasi bagi proyek-proyek karbon yang...

Prabowo Resmikan 11 Proyek Hilirisasi Nikel Senilai US$10,2 Miliar di IWIP

Ecobiz.asia — Presiden Prabowo Subianto meresmikan komersialisasi dan groundbreaking 11 proyek dalam ekosistem hilirisasi nikel di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah,...

Populasi Satwa Liar Global Turun 73%, Peluang Pemulihan Tumbuh di Indonesia

Ecobiz.asia — Populasi satwa liar yang dipantau di dunia turun rata-rata 73% dalam 52 tahun, tetapi sejumlah pemulihan spesies menunjukkan bahwa tren kehilangan keanekaragaman...

Tiga Start Up Iklim Dapat Suntikan Rp15 Miliar, Siap Uji Coba dan Komersialisasi di Indonesia

Ecobiz.asia – Tiga perusahaan start up teknologi iklim mendapat suntikan dana Rp15 miliar untuk menguji solusi mereka di Indonesia, menandai meningkatnya aliran modal ke...