Ecobiz.asia — PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mulai menjajaki pasar internasional dengan menargetkan pemasangan perdana teknologi Flow2Max di lapangan panas bumi milik Energy Development Corporation (EDC), Filipina, pada Juni 2026.
Penjajakan ini ditandai dengan kunjungan PGE ke lapangan panas bumi wet steam terbesar di dunia yang dikelola EDC di Leyte, Filipina. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari strategi PGE untuk mengomersialisasikan inovasi teknologi panas bumi sekaligus membuka sumber pendapatan baru di luar bisnis kelistrikan.
Manager Production & Optimization Excellence PGE, Mohamad Husni Mubarok, mengatakan penerapan Flow2Max di Filipina berpotensi mendukung optimalisasi operasional dan pengelolaan reservoir panas bumi secara berkelanjutan.
“Kami bangga dapat memperkenalkan inovasi teknologi pengelolaan superheated steam PGE kepada salah satu perusahaan panas bumi terbesar di dunia. Kami berharap Flow2Max dapat meningkatkan efisiensi produksi dan memperkuat pengelolaan reservoir EDC,” ujar Husni.
Flow2Max merupakan teknologi pengukuran aliran dua fase (two-phase flow meter) yang memungkinkan pemantauan fluida panas bumi secara real time. Teknologi ini membantu operator mengevaluasi kinerja sumur, memprediksi produktivitas, serta mendeteksi potensi gangguan teknis sejak dini. Inovasi tersebut dikembangkan dari riset doktoral Husni saat menempuh pendidikan di University of Auckland dan telah diuji di sejumlah lapangan panas bumi PGE di Indonesia.
Manager Ops. Asset Management & Optimization PGE, Jati Permana Kurniawan, menambahkan PGE dan EDC sepakat memperkuat kerja sama strategis ke depan, tidak hanya pada implementasi teknologi, tetapi juga pertukaran pengetahuan dan penguatan kapabilitas teknis.
“Kolaborasi ini sejalan dengan visi PGE untuk menjadi produsen panas bumi kelas dunia sekaligus pusat keunggulan geothermal,” kata Jati.
Dalam kunjungan tersebut, PGE turut menggandeng PT Sigma Cipta Utama, anak usaha PT Elnusa Tbk, serta mitra teknologi Ecolab. Pembahasan difokuskan pada kesiapan teknis, kebutuhan lapangan, hingga tahapan komersial sebelum masuk proses manufaktur dan pengiriman perangkat.
Pihak EDC menyatakan ketertarikan terhadap Flow2Max karena dinilai sesuai dengan karakteristik lapangan panas bumi di Leyte dan kebutuhan perusahaan dalam meningkatkan presisi pengelolaan sumur. ***




