Akademisi UGM Tekankan Pendekatan Sosial dalam Pengelolaan Hutan

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Akademisi Universitas Gadjah Mada (UGM) menekankan pentingnya pendekatan sosial dalam pengelolaan hutan untuk memperkuat mitigasi perubahan iklim, ketahanan terhadap bencana, serta kesejahteraan masyarakat sekitar hutan.

Pendekatan ini dinilai semakin krusial seiring meningkatnya sorotan publik terhadap sektor kehutanan pascabencana banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025.

Dekan Fakultas Kehutanan UGM Sigit Sunarta mengatakan pengelolaan hutan tidak lagi dapat bertumpu pada pendekatan teknokratis semata, melainkan harus bersifat partisipatif dengan melibatkan masyarakat sebagai aktor utama.

Hal tersebut disampaikan dalam Lokakarya Sylva Indonesia 2026 bertajuk Reaktualisasi Pendekatan Sosial dalam Pengelolaan Hutan di Indonesia yang digelar di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Yogyakarta, Senin (12/1/2026).

Read also:  B50 Sudah Mengalir di 94% SPBU, Pemerintah Kejar Deadline Transisi 1 Oktober

“Pendekatan sosial menjadi kunci agar pengelolaan hutan mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus menjaga fungsi ekologis,” ujar Sigit.

Ia menambahkan, hutan memiliki peran strategis dalam mitigasi perubahan iklim, penyediaan pangan, energi, dan air, yang hanya dapat berjalan optimal jika dikelola secara berkelanjutan dan inklusif.

Dalam forum yang sama, Direktur Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan Kementerian Kehutanan Dyah Murtiningsih menekankan pentingnya pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) secara terpadu dari hulu hingga hilir.

Menurutnya, kerusakan di wilayah hulu akan berdampak langsung pada wilayah hilir, sehingga dibutuhkan kesadaran kolektif lintas wilayah dan sektor.

Read also:  Bentuk Tim Khusus dan Libatkan Dua Profesor, Kemenhut Dalami Dugaan Pidana Kebakaran Bromo

“Pengelolaan DAS harus dipahami sebagai tanggung jawab bersama dari hulu sampai hilir,” kata Dyah. Ia menjelaskan, rehabilitasi lahan kritis dilakukan melalui kombinasi pendekatan vegetatif dan sipil teknis dengan pendekatan lanskap, baik di dalam maupun di luar kawasan hutan.

Dyah juga menyoroti pentingnya pemberdayaan masyarakat melalui edukasi dan penerapan agroforestri, terutama di kawasan hulu dan lahan miring. Skema ini dinilai mampu menyeimbangkan fungsi konservasi dengan manfaat ekonomi, sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat terhadap risiko bencana.

“Aktivitas ekonomi masyarakat perlu berjalan seiring dengan prinsip-prinsip konservasi,” ujarnya.

Read also:  Kemenhut Upayakan Pemulangan Lima Bayi Orangutan dari India, Lakukan Cek DNA

Lokakarya Sylva Indonesia 2026 yang berlangsung pada 12–15 Januari 2026 ini diikuti mahasiswa kehutanan dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Forum tersebut menjadi ruang diskusi strategis untuk merumuskan rekomendasi kebijakan kehutanan nasional berbasis keberlanjutan.

Ketua Pelaksana Lokakarya Sylva Indonesia 2026 Fedora Rifqi Rahmadhan menyampaikan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai wadah kolaborasi rimbawan muda untuk memperkuat jejaring, inovasi, dan kepedulian terhadap masa depan hutan Indonesia. Sementara itu, Sekretaris Jenderal Sylva Indonesia Wahyu Agung menegaskan peran mahasiswa kehutanan sebagai agen perubahan dalam menghadapi tantangan pengelolaan hutan yang semakin kompleks. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Industri Kelola Emisi Karbon Layak Dapat ‘Sweetener’ Pembiayaan, Persiapan Hadapi CBAM

Ecobiz.asia – Industri nasional didorong mulai menghitung emisi karbon dari kegiatan operasional sebagai langkah awal menghadapi tuntutan perdagangan global yang semakin rendah karbon. Pelaku usaha...

Target Bangun PLTS 100 GWp, DEN Sebut Indonesia Butuh Dukungan Jaringan hingga Tenaga Kerja

Ecobiz.asia — Pemerintah mendorong pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hingga 100 gigawatt peak (GWp) untuk menopang kebutuhan energi Indonesia. Namun, ekspansi tersebut membutuhkan...

Konsumsi Energi Final Indonesia Diproyeksi Tumbuh 2,6% per Tahun hingga 2060

Ecobiz.asia — Dewan Energi Nasional (DEN) memproyeksikan konsumsi energi final Indonesia tumbuh 2,2%–2,6% per tahun sepanjang 2024–2060, dengan sektor industri menjadi pengguna energi terbesar...

Transisi Energi Global Jadi Magnet Investasi, Indonesia Bidik 28 Komoditas untuk Hilirisasi Hijau

Ecobiz.asia — Investasi transisi energi global mencapai US$2,3 triliun pada 2025, tumbuh 8% dibandingkan tahun sebelumnya. Tren tersebut dinilai membuka peluang bagi Indonesia untuk...

Ekonomi Hijau Jadi Mesin Pertumbuhan Baru Indonesia, Potensi Serap 5,3 Juta Lapangan Kerja

Ecobiz.asia — Pengembangan energi hijau diproyeksikan menciptakan hingga 5,3 juta lapangan kerja pada 2029 sekaligus menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi baru Indonesia. Menteri Koordinator...

TOP STORIES

PGE Lahendong Padukan Konservasi Yaki dan Agroforestri Aren untuk Jaga Biodiversitas dan Ekonomi Lokal

Ecobiz.asia -- PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Lahendong, Sulawesi Utara, mengintegrasikan perlindungan keanekaragaman hayati dengan pengembangan potensi ekonomi masyarakat melalui konservasi monyet...

Industri Kelola Emisi Karbon Layak Dapat ‘Sweetener’ Pembiayaan, Persiapan Hadapi CBAM

Ecobiz.asia – Industri nasional didorong mulai menghitung emisi karbon dari kegiatan operasional sebagai langkah awal menghadapi tuntutan perdagangan global yang semakin rendah karbon. Pelaku usaha...

PGE Dorong Pengembangan Panas Bumi Berbasis Konservasi Satwa Endemik, Kembangkan Agroforestri Aren

Ecobiz.asia – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) Area Lahendong, Sulawesi Utara, mengembangkan konservasi keanekaragaman hayati dengan melindungi satwa endemik Yaki (Macaca nigra) sekaligus...

Lakukan Studi Penangkapan dan Penyimpangan Karbon (CCS/CCUS), Pertamina Ungkap Target Tahap Comissioning

Ecobiz.asia — PT Pertamina (Persero) tengah mengembangkan 11 studi carbon capture and storage (CCS) dan carbon capture, utilization, and storage (CCUS) yang diarahkan untuk...

Verra Dapat Persetujuan ICVCM untuk Metodologi CCS, Empat Modul Dinyatakan Penuhi Standar CCP

Ecobiz.asia – Metodologi carbon capture and storage (CCS) milik Verra mendapat persetujuan dari Integrity Council for the Voluntary Carbon Market (ICVCM) berdasarkan Core Carbon...