Ecobiz.asia – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mulai melibatkan badan usaha milik desa (BUMDesa) dalam rantai pasok biomassa untuk pembangkit listrik. Program ini ditandai dengan pengiriman perdana serbuk gergaji (sawdust) dari BUMDesa di Desa Salira, Kabupaten Serang, Banten, menuju PLTU Suralaya yang dioperasikan PLN Indonesia Power.
Program Pengembangan Ekosistem Biomassa Bersama BUMDesa tersebut dikembangkan bersama Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT). Kolaborasi ini diarahkan untuk memanfaatkan limbah pertanian, perkebunan, dan industri lokal sebagai bahan baku biomassa bagi pembangkit listrik.
Menteri Desa PDTT Yandri Susanto mengatakan, program tersebut membuka peluang bagi masyarakat desa untuk menjadi pelaku usaha dalam rantai pasok energi nasional.
“Launching hari ini bukan hanya sekadar seremonial, tetapi benar-benar menjadi tonggak keseriusan kita. Ujungnya adalah bagaimana memastikan potensi apa pun yang ada di desa bisa kita maksimalkan,” ujar Yandri.
Bahan baku biomassa yang dapat dimanfaatkan antara lain bonggol jagung, jerami, serbuk gergaji, sabut dan tempurung kelapa, serta cangkang sawit. Melalui BUMDesa, bahan baku tersebut dapat dikumpulkan, diolah, dan dipasok untuk memenuhi kebutuhan pembangkit PLN.
Di Kabupaten Serang, terdapat 326 desa yang potensinya dapat dipetakan untuk mendukung rantai pasok biomassa. Pada tahap awal, BUMDesa Bantarwaru di Kecamatan Cinangka dan BUMDesa Kadukempong di Kecamatan Padarincang turut disiapkan dalam pengembangan ekosistem tersebut.
Pelaksana Harian Direktur Utama PLN EPI Rakhmad Dewanto mengatakan, pemanfaatan biomassa melalui teknologi cofiring memungkinkan sebagian batu bara pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) digantikan dengan bahan baku dari sumber daya lokal.
“Kalau batubara dan gas rata-rata berasal dari pemasok besar, biomassa ini merupakan pasokan yang melibatkan ekonomi sirkuler. Menurut kami, ini juga bagian dari ekonomi kerakyatan,” kata Rakhmad.
Sepanjang 2025, pasokan biomassa PLN Group mencapai sekitar 2,4 juta ton. Pada 2026, volumenya diproyeksikan berada pada kisaran yang sama, sebelum ditargetkan meningkat menjadi tiga juta ton pada 2027.
Dalam jangka panjang, PLN EPI menargetkan pemanfaatan biomassa untuk program cofiring mencapai delapan juta hingga 10 juta ton di 51 titik pembangkit di seluruh Indonesia.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, PLN EPI mengembangkan rantai pasok melalui model hub dan sub-hub, termasuk pusat pengumpulan dan pengolahan biomassa. BUMDesa dapat berperan sebagai agregator bahan baku dari masyarakat atau mengelola fasilitas produksi biomassa sesuai spesifikasi pembangkit.
PLN EPI juga menyiapkan dukungan fasilitas produksi, seperti mesin pencacah dan pengering, untuk meningkatkan kualitas biomassa, termasuk nilai kalor dan kadar airnya.
“Kami berkolaborasi dengan mitra untuk membantu dari sisi fasilitas produksinya, apakah itu mesin pencacah atau mesin pengering. Tujuannya supaya kualitas biomassa ini ketika masuk ke PLTU menjadi lebih baik,” ujar Rakhmad.
Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir mengatakan, program tersebut merupakan tindak lanjut nota kesepahaman antara Kemendes PDTT dan PLN pada 28 April 2026. Kerja sama itu kemudian diperkuat melalui perjanjian antara Direktorat Jenderal Pengembangan Ekonomi dan Investasi Desa dan Daerah Tertinggal dengan PLN EPI pada 20 Agustus 2026.
PLN EPI menargetkan program pengembangan ekosistem biomassa melibatkan tiga BUMDesa pada 2026, enam BUMDesa pada 2027, dan 10 BUMDesa pada 2028. ***




