LiuGong Sebut Alat Berat Listrik Hemat Energi hingga 70%, Infrastruktur Tambang Jadi Tantangan

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Penggunaan alat berat listrik di sektor pertambangan berpotensi menekan biaya energi hingga 50–70 persen dibandingkan alat berbahan bakar diesel. Namun, penerapannya masih menghadapi kendala investasi awal yang lebih tinggi dan keterbatasan infrastruktur listrik di lokasi tambang.

Head of Mining Business PT LiuGong Machinery Indonesia Muhammad Wahyudi Ari Nugraha mengatakan, pemilihan alat berat listrik, hibrida, maupun diesel harus disesuaikan dengan kondisi operasional setiap tambang.

Penilaian perlu mencakup kondisi jalan angkut, area penambangan, hingga pola kerja alat. Faktor tersebut menentukan teknologi yang paling sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik lokasi tambang.

Hal itu disampaikan Wahyudi dalam sesi Executive Dialogue bertema “Transformasi Teknologi dan Digitalisasi untuk Mewujudkan Operasi Pertambangan yang Cerdas, Produktif, dan Berkelanjutan” pada Minerba Convex di Jakarta, Selasa (4/11/2026).

Read also:  Pertamina Uji Teknologi PertaPURE, Bidik Pemanfaatan Kembali Air Terproduksi pada Operasi Migas

Wahyudi mengatakan, LiuGong telah mengembangkan alat berat listrik sejak 2014 untuk menjawab kebutuhan industri dalam mengendalikan biaya operasional, meningkatkan produktivitas, dan mengurangi emisi.

Dalam perbandingan yang dipaparkan, penggunaan alat listrik penuh dapat menghemat biaya energi sekitar 50–70 persen dibandingkan alat diesel. Sementara itu, alat hibrida yang menggabungkan mesin dan baterai dapat menghemat konsumsi bahan bakar sekitar 20 persen.

Penghematan tersebut mengacu pada biaya energi, bukan keseluruhan biaya pembelian, pengoperasian, dan perawatan alat.

Selain efisiensi energi, alat listrik juga memiliki kebutuhan servis berkala dan komponen perawatan yang lebih sedikit dibandingkan alat diesel.

Read also:  Komitmen Iklim Indonesia Dinilai Lemah Lindungi Kesehatan, Polusi Udara Disorot

Wahyudi mencontohkan penggunaan alat muat beroda listrik LiuGong di salah satu smelter di Sulawesi yang telah mencapai sekitar 20.000 jam operasi.

Menurutnya, penggunaan motor listrik juga tidak serta-merta mengurangi produktivitas. Karakteristik torsi motor listrik dinilai dapat mendukung kemampuan alat dalam menjalankan pekerjaan, termasuk saat melewati tanjakan.

Meski demikian, investasi awal menjadi salah satu hambatan adopsi teknologi tersebut.

“Jadi memang angka investasinya lebih tinggi,” kata Wahyudi.

Keterbatasan pasokan dan infrastruktur listrik di sejumlah lokasi tambang juga menjadi kendala. Belum semua wilayah operasi memiliki jaringan yang memadai untuk mendukung penggunaan alat berat listrik.

Read also:  Komitmen Iklim Indonesia Dinilai Lemah Lindungi Kesehatan, Polusi Udara Disorot

Untuk mengatasi kondisi tersebut, LiuGong menawarkan sejumlah pilihan teknologi, antara lain sistem penukaran baterai, perangkat penyedia daya bergerak, dan ekskavator yang menggunakan kabel listrik.

Perusahaan juga menjalankan program konversi atau retrofit untuk mengubah alat diesel menjadi alat listrik. Wahyudi menyebut program tersebut sedang diterapkan pada truk tambang berangka kaku dengan kapasitas 70 ton dan 100 ton.

Ia mengatakan penerapan alat listrik perlu direncanakan bersama oleh pemilik tambang, kontraktor, dan pemasok alat agar teknologi yang dipilih sesuai dengan kebutuhan operasional serta kesiapan infrastruktur.

“Tentunya mining owner, mining contractor, dan pemegang merek harus duduk bersama, mengerjakan ini secara bersama-sama,” ujarnya. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Komitmen Iklim Indonesia Dinilai Lemah Lindungi Kesehatan, Polusi Udara Disorot

Ecobiz.asia – Komitmen iklim Indonesia dinilai belum memadai dalam melindungi kesehatan masyarakat, terutama karena lemahnya pendanaan, pemantauan, dan pengendalian polusi udara. Dalam Healthy NDC...

Pertamina Uji Teknologi PertaPURE, Bidik Pemanfaatan Kembali Air Terproduksi pada Operasi Migas

Ecobiz.asia — PT Pertamina (Persero) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menguji teknologi PertaPURE untuk mengolah air terproduksi (produced water) dari kegiatan produksi...

PHR Zona 4 Catat Hasil Positif Uji Inovasi Teknik Batch Drilling dan Dual Completion di Prabumulih Field

Ecobiz.asia — Pertamina Subholding Upstream Regional 1 Zona 4 menguji kombinasi batch drilling dan dual completion dalam pengembangan Sumur GNK-114 di Gunung Kemala, Prabumulih....

Rampungkan Proyek Strategis SNB AOI 1-3-5, Pertamina Hulu Mahakam Perkuat Pasokan Gas untuk Ketahanan Energi Nasional

Ecobiz.asia -- PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), salah satu anak perusahaan PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI), berhasil merampungkan Proyek Pengembangan Sisi Nubi Area of...

PHR Resmikan EPF Libo GS untuk Perkuat Produksi dan Keandalan Operasi Migas

Ecobiz.asia -- PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona Rokan mengoperasikan Early Production Facility (EPF) baru di Libo Gathering Station (GS), Kabupaten Siak, Riau, untuk...

TOP STORIES

SESNA Targetkan PLTS 262 MWp di Morowali Beroperasi Awal 2027, Pasok Listrik Hijau Industri Nikel

Ecobiz.asia – PT Sumber Energi Surya Nusantara (SESNA) menargetkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 262 megawatt-peak (MWp) di kawasan industri Morowali, Sulawesi Tengah,...

Freeport Operasikan 189 Alat Tambang Bawah Tanah dari Jarak Jauh, Tekan Risiko Kecelakaan

Ecobiz.asia – PT Freeport Indonesia (PTFI) mengoperasikan 189 peralatan tambang bawah tanah dengan sistem kendali jarak jauh untuk mengurangi paparan pekerja terhadap area berbahaya....

Jelang 100 Tahun Panas Bumi Indonesia, PGE Pacu Pengembangan Kapasitas Menuju 1 GW

Ecobiz.asia – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mempercepat pengembangan proyek panas bumi untuk meningkatkan kapasitas terpasang yang dikelola secara mandiri (own operation) menjadi...

PLN Explores Australian Financing to Strengthen East Java and Bali Power Grids

Ecobiz.asia – Indonesia's state-owned electricity company PT PLN (Persero) is exploring financing support from the Australian government for a project to strengthen power grid...

ICVCM Approves Verra, Equitable Earth Methodologies for Coal Retirement and Forest Restoration

Ecobiz.asia – The Integrity Council for the Voluntary Carbon Market (ICVCM) has approved two carbon crediting methodologies developed by Verra and Equitable Earth, covering...