Ecobiz.asia – Elektrifikasi dan digitalisasi pertambangan membutuhkan dukungan jaringan listrik, infrastruktur, serta investasi yang memadai. Ketersediaan alat berat listrik dan teknologi digital tidak akan cukup apabila pasokan listrik dan jaringan pendukung di lokasi tambang belum siap.
Direktur Utama PT Pamapersada Nusantara (PAMA) Hendra Hutahean mengatakan, perusahaan tambang dan kontraktor tidak dapat dituntut menggunakan teknologi seperti fleet management system (FMS) dan kendaraan listrik (electric vehicle) tanpa dukungan infrastruktur dasar.
“Gak mungkin kami dituntut untuk pakai FMS, untuk pakai electric vehicle, kalau grid-nya kagak ada,” ujar Hendra dalam sesi Executive Dialogue bertema “Transformasi Teknologi dan Digitalisasi untuk Mewujudkan Operasi Pertambangan yang Cerdas, Produktif, dan Berkelanjutan” pada Minerba Convex di Jakarta, Selasa (4/11/2026).
Menurut Hendra, kebutuhan infrastruktur tidak hanya mencakup pasokan listrik, tetapi juga jaringan komunikasi untuk mendukung pengoperasian teknologi digital. Pembangunan jaringan transmisi, kata dia, menambah biaya yang perlu diperhitungkan perusahaan. Penyediaan listrik untuk tambang juga harus mempertimbangkan kebutuhan masyarakat di sekitarnya.
Karena itu, ia menilai dukungan regulator diperlukan untuk mencari pengaturan yang sesuai dengan kebutuhan operasional perusahaan dan kondisi wilayah pertambangan.
Di sisi pengembangan teknologi, PAMA juga mulai menjajaki pemanfaatan hidrogen. Hendra mengatakan perusahaan telah memesan perangkat untuk memproduksi hidrogen atau electrolyzer yang direncanakan ditempatkan di Kalimantan Tengah.
PAMA juga bekerja sama dengan Komatsu dalam rencana pengembangan prototipe truk berbahan bakar hidrogen. Menurut Hendra, pengembangan teknologi tersebut membutuhkan investasi besar yang harus diperhitungkan oleh perusahaan.
Ia mengatakan pilihan teknologi pertambangan kini semakin beragam, mulai dari alat hibrida, listrik, hidrogen, hingga sistem pengoperasian otonom. Penerapannya perlu mempertimbangkan keselamatan kerja dan efisiensi biaya produksi.
Selain elektrifikasi, Hendra menyoroti penggunaan teknologi digital untuk meningkatkan pengawasan operasional. Sistem tersebut dapat membantu memantau aktivitas kendaraan di wilayah kerja yang luas dan beroperasi sepanjang hari.
Salah satu penerapannya adalah pemantauan kecepatan kendaraan dan penggunaan gigi saat melewati jalan menurun. Dengan sistem digital, pengawasan tidak hanya bergantung pada petugas yang ditempatkan di titik pemeriksaan tertentu.
Hendra mengatakan sistem digital perlu menyediakan data yang mendekati waktu nyata, mengurangi pencatatan manual, serta memberikan rekomendasi untuk mendukung pengambilan keputusan. Namun, manfaatnya bergantung pada ketepatan data dan kemampuan pekerja dalam mengoperasikan sistem.
Ia mencontohkan penggunaan layar panduan pada ekskavator yang membutuhkan pembaruan informasi agar sesuai dengan kondisi pekerjaan di lapangan.
“Terus siapa yang update data, update ter-update hari itu? Manusia,” ujarnya.
Menurut Hendra, perubahan cara kerja pekerja menjadi salah satu tantangan dalam penerapan teknologi. Pengadaan perangkat harus diikuti kemampuan pekerja untuk mengoperasikan dan memperbarui sistem secara tepat.
Ia juga menekankan pentingnya komunikasi antara penyedia teknologi dan pengguna. Perbedaan kondisi setiap lokasi tambang membuat sistem yang dikembangkan harus disesuaikan dengan kebutuhan operasional. ***




