Ambisi 100 GWp Terancam Jadi Narasi Panggung, COP31 Jadi Momentum Pembuktian Prabowo

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Ambisi pemerintah membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) hingga 2029 berisiko berhenti sebagai komitmen di panggung internasional jika tidak segera disertai kepastian regulasi, peta jalan proyek, dan skema pembiayaan yang memadai. Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-31 (COP31) di Antalya, Türkiye, pada November 2026 dinilai menjadi momentum bagi Presiden Prabowo Subianto untuk membuktikan keseriusan pemerintah dalam menjalankan transisi energi.

Policy Strategist Cerah Dwiki Mahendra mengatakan, pencapaian target PLTS 100 GWp membutuhkan perbaikan tata kelola, kepastian pembiayaan, dan kebijakan yang mendukung percepatan energi terbarukan. Tanpa langkah konkret, ambisi tersebut berisiko tidak terwujud karena energi surya masih harus bersaing dengan energi fosil yang menikmati berbagai insentif.

“COP31 menjadi momentum bagi Indonesia untuk membuktikan bahwa transisi energi tidak berhenti pada komitmen, tetapi bergerak menuju implementasi dan pembiayaan yang nyata. Tanpa perbaikan tata kelola dan eksekusi yang terukur, target 100 GWp berisiko menjadi ambisi tanpa fondasi,” kata Dwiki pada diskusi Road to COP31 Series: Two Years of Prabowo-Gibran: Assessing Indonesia’s Energy and Climate Policies Ahead of COP31 di Jakarta, Rabu (14/10/2026).

Read also:  Kemenhut Ungkap Dua Badak Sumatera di SRS Way Kambas Bunting, Harapan Populasi Bertambah

Menurut dia, keseriusan pemerintah juga perlu ditunjukkan melalui penghentian pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) baru serta penghentian operasi PLTU eksisting yang tidak efisien. Langkah tersebut dinilai penting agar pengembangan energi terbarukan tidak berjalan beriringan dengan ketergantungan berkepanjangan pada pembangkit berbahan bakar fosil.

Dwiki menilai Indonesia memiliki peluang memperkuat kepemimpinan negara-negara Selatan Global (Global South) dalam diplomasi iklim. Namun, posisi tersebut perlu ditopang perubahan kebijakan domestik, termasuk penyelarasan komitmen internasional dalam Second Nationally Determined Contribution (Second NDC) dengan target nasional dan prioritas pengurangan penggunaan energi fosil.

Read also:  Target Bangun PLTS 100 GWp, DEN Sebut Indonesia Butuh Dukungan Jaringan hingga Tenaga Kerja

Dari sisi investasi, Research and Engagement Lead Indonesia Energy Transition Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) Mutya Yustika mengatakan, mahalnya biaya pendanaan masih menjadi salah satu hambatan utama investasi energi bersih di Indonesia. Pemerintah perlu menekan risiko investasi, termasuk melalui pemberian jaminan yang dapat meningkatkan kelayakan pembiayaan program PLTS 100 GWp.

Selain dukungan pembiayaan, Mutya menekankan pentingnya kepastian regulasi dan proyek agar investor memiliki gambaran yang jelas mengenai peluang investasi, jadwal pengadaan, serta mekanisme pelaksanaan program.

Ia mendorong percepatan pengesahan Rancangan Undang-Undang Energi Baru dan Energi Terbarukan, penerbitan Peraturan Presiden terkait program PLTS 100 GWp, revisi Peraturan Presiden Nomor 112 Tahun 2022, serta penyesuaian Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034 dengan memasukkan rincian proyek yang mendukung target tersebut.

Read also:  Industri Kelola Emisi Karbon Layak Dapat ‘Sweetener’ Pembiayaan, Persiapan Hadapi CBAM

“Tanpa adanya peta jalan dan pemetaan proyek yang jelas sejak awal, waktu tiga tahun yang ditargetkan menjadi sangat sempit dan berisiko memperlambat laju transisi energi. Kepastian proyek, jadwal pengadaan, dan kerangka kebijakan yang konsisten merupakan faktor kunci untuk membangun kepercayaan investor dan mempercepat masuknya investasi,” ujar Mutya.

Bagi Dwiki, COP31 semestinya menjadi ruang untuk mendorong pembahasan transisi dari energi fosil secara lebih konkret, sekaligus menunjukkan bahwa komitmen Indonesia dapat diterjemahkan menjadi kebijakan dan pelaksanaan di dalam negeri.

Ia menilai, jika didukung tata kelola dan pembiayaan yang tepat, program PLTS 100 GWp tidak hanya dapat mempercepat pengembangan energi terbarukan, tetapi juga membuka peluang pengurangan subsidi energi dan mendorong transisi yang lebih adil bagi masyarakat serta pekerja. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Indonesia Dorong Pendanaan Konkret untuk Transisi Energi Berkeadilan di COP31

Ecobiz.asia — Indonesia akan mendorong realisasi dukungan pendanaan, penguatan kapasitas, dan bantuan teknis bagi negara berkembang dalam pelaksanaan transisi energi berkeadilan pada Konferensi Perubahan...

MADANI Desak Penguatan Hukum IBSAP, Perkuat Perlindungan Keanekaragaman Hayati Indonesia

Ecobiz.asia — Sebanyak 14,84 juta hektare areal bernilai keanekaragaman hayati tinggi (ABKT) di Indonesia berada di luar sistem perlindungan kawasan hutan formal, sementara 5,91...

RUU Pengendalian Perubahan Iklim Berkeadilan Dibawa ke COP31

Ecobiz.asia — Indonesia menyiapkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pengendalian Perubahan Iklim Berkeadilan sebagai salah satu inisiatif yang akan dibawa ke Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-31...

Tobat Ekologis, 2.649 Sekolah Jalankan Aksi Pengelolaan Sampah hingga Konservasi Energi

Ecobiz.asia — Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menggerakkan 2.649 sekolah di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota untuk menjalankan aksi lingkungan terukur selama...

Geger! Tengkorak Diduga Orangutan Ditemukan di Areal Bernilai Konservasi Tinggi Kebun Sawit PT KAL

Ecobiz.asia – Tim gabungan lintas instansi mengevakuasi tengkorak yang diduga milik orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) dari areal bernilai konservasi tinggi (High Conservation Value/HCV) perkebunan...

TOP STORIES

Indonesia Dorong Pendanaan Konkret untuk Transisi Energi Berkeadilan di COP31

Ecobiz.asia — Indonesia akan mendorong realisasi dukungan pendanaan, penguatan kapasitas, dan bantuan teknis bagi negara berkembang dalam pelaksanaan transisi energi berkeadilan pada Konferensi Perubahan...

Pertamina Explores Sustainable Aviation Fuel From Urban Waste, Partners With PAL Jaya

Ecobiz.asia – Indonesia’s state-owned energy company PT Pertamina (Persero) is exploring the use of urban fat, oil and grease (FOG) waste as an alternative...

ICAO Joins Alliance to Boost Carbon Credit Supply for Aviation

Ecobiz.asia – The International Civil Aviation Organization (ICAO) has joined an alliance of more than 80 stakeholders working to accelerate the supply of eligible...

Kemenhut: GANISPH Dibutuhkan untuk Perkuat Ekosistem Perdagangan Karbon Kehutanan

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menilai tenaga teknis pengelolaan hutan (GANISPH) akan memegang peran penting dalam ekosistem perdagangan karbon, seiring berkembangnya pemanfaatan hutan yang...

MADANI Desak Penguatan Hukum IBSAP, Perkuat Perlindungan Keanekaragaman Hayati Indonesia

Ecobiz.asia — Sebanyak 14,84 juta hektare areal bernilai keanekaragaman hayati tinggi (ABKT) di Indonesia berada di luar sistem perlindungan kawasan hutan formal, sementara 5,91...