Parlemen Godok RUU Perubahan Iklim Berkeadilan, Jaga Kepastian Aturan Proyek Karbon

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Parlemen mulai menyiapkan pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan Iklim Berkeadilan untuk memberikan kepastian dan menjaga konsistensi regulasi bagi proyek-proyek karbon yang memiliki jangka waktu panjang.

Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno mengatakan rancangan terbaru RUU tersebut telah diterima di parlemen dan ditargetkan mulai dibahas pada masa sidang berikutnya pada awal November. Pengesahan ditargetkan dapat dilakukan sebelum akhir 2026.

“Rancangan ini akan segera dibahas. Target kami adalah membahasnya pada masa sidang berikutnya di parlemen, yang akan dimulai pada awal November, dengan target agar undang-undang tersebut disahkan sebelum akhir tahun,” kata Eddy dalam Carbon Talk bertajuk Unlocking Blended Financing for Indonesia’s Blue Carbon Ecosystem pada Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026 di Jakarta, Selasa (6/10/2026).

Read also:  Menteri LH Tegaskan Indonesia Bangun Biodiversity Credit Berbasis Tiga Prinsip Utama, Apa Saja?

Menurut Eddy, kepastian regulasi menjadi penting karena proyek karbon, khususnya karbon biru, memiliki siklus pengembangan yang panjang, sementara perubahan regulasi dapat berlangsung jauh lebih cepat.

“Proyek karbon biru berlangsung selama 30 tahun atau lebih, sementara peraturan dapat berubah dalam waktu satu tahun. Itulah sebabnya parlemen sedang menyiapkan Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Iklim Berkeadilan, agar aturan tetap konsisten sepanjang masa proyek,” ujarnya.

Eddy mengatakan kepastian aturan juga diperlukan untuk membangun kepercayaan investor terhadap pengembangan pemanfaatan karbon di Indonesia, termasuk karbon biru (blue carbon). Menurut dia, Indonesia memiliki sekitar 3,4 juta hektare mangrove dan sekitar 660.000 hektare padang lamun.

Read also:  TÜV SÜD Bangun Pusat Dekarbonisasi di Singapura, Siap Investasi US$24 Juta

Ekosistem tersebut disebut menyimpan sekitar 17% cadangan karbon biru dunia. Namun, kontribusi Indonesia terhadap kredit karbon biru yang telah diterbitkan secara global baru sekitar 6%.

“Indonesia tidak kekurangan karbon biru. Yang perlu kita bangun adalah kepercayaan, dan kepercayaan dapat dibangun melalui aturan yang ditegakkan,” kata Eddy.

Menurut Eddy, kepercayaan investor perlu diperkuat melalui registri nasional, verifikasi independen, aturan ekspor yang jelas, serta kepastian hukum.

Ia menyebut Perpres Nomor 110 Tahun 2025 tentang Nilai Ekonomi Karbon sebagai salah satu landasan regulasi. Selain itu, pengembangan karbon biru diarahkan melalui Rencana Aksi Nasional Ekosistem Karbon Biru hingga 2030 dan Peta Jalan Karbon Biru hingga 2045.

Read also:  Potensi Kredit Karbon Riau Capai 11,7 Juta Ton CO₂e per Tahun, Nilainya Bisa US$235 Juta

Kebutuhan Investasi US$460 Juta

Dari sisi pembiayaan, Eddy mengatakan Rencana Aksi Nasional memperkirakan kebutuhan investasi pengembangan karbon biru Indonesia mencapai US$460 juta pada 2025–2030.

Menurut dia, tantangan pembiayaan terutama muncul pada tahap awal proyek, ketika pengembang belum memperoleh pendapatan dari penerbitan kredit karbon.

“Modal yang paling sulit dihimpun selalu merupakan modal pertama. Studi kelayakan, perizinan, dan keterlibatan masyarakat harus dibiayai bertahun-tahun sebelum kredit pertama diterbitkan, dan tidak ada satu sumber modal yang dapat menanggung proyek sepanjang seluruh siklus hidupnya,” ujarnya.

Karena itu, kepastian regulasi dinilai menjadi salah satu fondasi untuk menarik pembiayaan sekaligus memastikan proyek karbon dapat berjalan dalam jangka panjang. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Tiga Start Up Iklim Dapat Suntikan Rp15 Miliar, Siap Uji Coba dan Komersialisasi di Indonesia

Ecobiz.asia – Tiga perusahaan start up teknologi iklim mendapat suntikan dana Rp15 miliar untuk menguji solusi mereka di Indonesia, menandai meningkatnya aliran modal ke...

Potensi Kredit Karbon Riau Capai 11,7 Juta Ton CO₂e per Tahun, Nilainya Bisa US$235 Juta

Ecobiz.asia — Provinsi Riau memiliki potensi menghasilkan hingga 11,7 juta ton kredit karbon setara karbon dioksida (CO₂e) per tahun dari perlindungan hutan, pemulihan gambut,...

Verra Dapat Persetujuan ICVCM untuk Metodologi CCS, Empat Modul Dinyatakan Penuhi Standar CCP

Ecobiz.asia – Metodologi carbon capture and storage (CCS) milik Verra mendapat persetujuan dari Integrity Council for the Voluntary Carbon Market (ICVCM) berdasarkan Core Carbon...

Pemetaan Digital Ungkap Potensi Karbon Lamun Indonesia, Nilainya Sangat Besar

Ecobiz.asia – Pemodelan berbasis remote sensing mulai memberikan gambaran baru mengenai cadangan karbon ekosistem lamun Indonesia. Peneliti University of Queensland Muhammad Hafizt memperkirakan above-ground...

Isometric Perluas Pasar ke Kredit Karbon Pencegahan Deforestasi, Siapkan Protokol Baru

Ecobiz.asia – Lembaga sertifikasi kredit karbon Isometric memperluas cakupan ke proyek pencegahan deforestasi dengan menyiapkan protokol baru yang ditujukan untuk memperkuat kredibilitas kredit karbon...

TOP STORIES

Prabowo Resmikan 11 Proyek Hilirisasi Nikel Senilai US$10,2 Miliar di IWIP

Ecobiz.asia — Presiden Prabowo Subianto meresmikan komersialisasi dan groundbreaking 11 proyek dalam ekosistem hilirisasi nikel di Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP), Halmahera Tengah,...

Populasi Satwa Liar Global Turun 73%, Peluang Pemulihan Tumbuh di Indonesia

Ecobiz.asia — Populasi satwa liar yang dipantau di dunia turun rata-rata 73% dalam 52 tahun, tetapi sejumlah pemulihan spesies menunjukkan bahwa tren kehilangan keanekaragaman...

Tiga Start Up Iklim Dapat Suntikan Rp15 Miliar, Siap Uji Coba dan Komersialisasi di Indonesia

Ecobiz.asia – Tiga perusahaan start up teknologi iklim mendapat suntikan dana Rp15 miliar untuk menguji solusi mereka di Indonesia, menandai meningkatnya aliran modal ke...

Indonesia Plans Special Unit to Tackle Methane, Black Carbon Emissions by 2027

Ecobiz.asia — Indonesia is preparing to establish a special unit to coordinate efforts to reduce emissions of super pollutants such as methane and black...

APP Group Becomes First Indonesian Company to Join RE100, Targets 100% Renewable Electricity

Ecobiz.asia – APP Group has become the first Indonesian company to join RE100, a global initiative led by The Climate Group that brings together...