Isometric Perluas Pasar ke Kredit Karbon Pencegahan Deforestasi, Siapkan Protokol Baru

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Lembaga sertifikasi kredit karbon Isometric memperluas cakupan ke proyek pencegahan deforestasi dengan menyiapkan protokol baru yang ditujukan untuk memperkuat kredibilitas kredit karbon avoided deforestation dan meningkatkan kepercayaan pembeli.

Pengembang proyek Imperative dan Revalue menjadi dua pengembang yang telah menyatakan komitmen untuk mensertifikasi proyek mereka menggunakan protokol tersebut.

Chief Science Officer Isometric Stacy Kauk mengatakan pendekatan yang digunakan akan mengadopsi prinsip yang selama ini diterapkan Isometric dalam sertifikasi nature-based carbon removal.

“Isometric dengan cepat menjadi salah satu lembaga sertifikasi terkemuka untuk nature-based carbon removal. Kini saatnya melakukan hal yang sama untuk avoided deforestation,” kata Kauk dalam keterangan Isometric, Selasa (22/9/2026).

Proyek avoided deforestation bertujuan mencegah kehilangan hutan dengan mengatasi tekanan sosial dan ekonomi yang mendorong pembukaan lahan. Kredit karbon menjadi salah satu instrumen untuk menyalurkan pembiayaan swasta ke proyek-proyek tersebut.

Namun, permintaan terhadap kredit avoided deforestation melemah dalam beberapa tahun terakhir. Pensiun (retirement) kredit di kategori tersebut mencapai hampir 61 juta kredit pada 2021, sebelum turun menjadi sekitar 35 juta kredit pada 2025. Penurunan tersebut terjadi di tengah kekhawatiran mengenai over-crediting dan kredibilitas sejumlah proyek.

Read also:  Dapat Dukungan Kemenhut, Riau Mantap Masuk Pasar Karbon Yurisdiksi ART-TREES

Isometric menyatakan protokol baru akan berfokus pada proyek yang mencegah deforestasi dan degradasi hutan yang tidak direncanakan, termasuk akibat ekspansi pertanian tanpa izin dan pembalakan liar. Protokol tersebut tidak ditujukan untuk pembukaan hutan yang telah memperoleh izin secara legal.

Tiga Pendekatan

Protokol baru akan menggunakan tiga pendekatan utama untuk memperkuat integritas kredit avoided deforestation, yakni dynamic baseline, asumsi kebocoran (leakage) sebesar 100%, serta kewajiban menangani akar penyebab deforestasi.

Melalui pendekatan dynamic baseline, garis dasar proyek akan dihitung menggunakan kawasan kontrol berdasarkan kondisi nyata di lapangan dan dihitung ulang setiap kali kredit diterbitkan. Isometric menyebut pendekatan tersebut ditujukan untuk mencegah penerbitan kredit berdasarkan proyeksi risiko deforestasi yang sudah tidak relevan.

Protokol juga menetapkan asumsi leakage sebesar 100% sebagai standar awal. Leakage merujuk pada risiko bahwa deforestasi yang berhasil dicegah di lokasi proyek justru berpindah ke wilayah lain.

Read also:  Incar Blue Carbon, Lampung Perluas Cakupan Tim Koordinasi Inisiatif Karbon

Asumsi tersebut hanya dapat dikurangi apabila pengembang proyek dapat membuktikan dan memantau bahwa deforestasi tidak berpindah ke lokasi lain.

Aspek ketiga berkaitan dengan akar penyebab deforestasi. Pengembang diwajibkan menunjukkan bahwa tekanan ekonomi dan sosial yang mendorong masyarakat membuka lahan telah ditangani bersama masyarakat sebelum kredit diterbitkan.

Protokol tersebut dikembangkan oleh tim sains internal Isometric dengan masukan dari Science Network independen yang beranggotakan lebih dari 400 pakar akademik.

Isometric berencana membuka protokol tersebut untuk konsultasi publik pada November 2026 sebelum memfinalisasi standar dan membuka proses sertifikasi proyek.

Saat ini Isometric bekerja sama dengan 35 pengembang proyek di bidang reforestasi, restorasi mangrove, pengelolaan hutan berkelanjutan, pengelolaan tanah, dan agroforestri.

Pengembangan protokol avoided deforestation disebut melanjutkan pengalaman Isometric dalam nature-based carbon removal, termasuk pemanfaatan teknologi untuk mempercepat proses sertifikasi dan verifikasi.

Dapat Dukungan Pengembang

Sejumlah peneliti turut memberikan masukan terhadap pengembangan protokol tersebut. Associate Professor University of Cambridge sekaligus Chair of Scientific Council Haven, Tom Swinfield, menilai penggunaan dynamic baseline berbasis bukti lapangan serta perlindungan yang lebih kuat terhadap risiko leakage dapat memperkuat pengukuran proyek avoided deforestation.

Sementara itu, Co-founder dan Chief Scientist Space Intelligence Ed Mitchard mengatakan pendekatan Isometric berbeda dari metodologi REDD+ yang ada karena membandingkan wilayah proyek dengan lokasi pembanding yang sesuai berdasarkan kondisi setelah periode berjalan, bukan menetapkan baseline terlebih dahulu untuk setiap periode pemantauan.

Read also:  BEI Luncurkan IDX Green Equity Designation, Dorong Transparansi dan Pembiayaan Ekonomi Hijau

Dukungan juga datang dari pengembang proyek. Revalue, yang mengembangkan proyek pengurangan emisi di sejumlah yurisdiksi dengan portofolio mencakup jutaan hektare hutan, menyatakan akan mengalihkan proyek-proyek dalam portofolio mendatang ke protokol Isometric.

“Revalue telah memimpin pengembangan kredit pengurangan emisi yang ketat secara ilmiah. Kami percaya protokol baru Isometric merupakan terobosan bagi kredit pengurangan emisi, dengan membawa ketelitian ilmiahnya sejajar dengan removals,” kata Founder dan CEO Revalue Stuart Rowland.

Imperative, perusahaan restorasi dan pengelolaan ekosistem, juga tengah mengembangkan proyek konservasi hutan yang direncanakan menggunakan protokol baru tersebut. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

JDS dan ITB Bahas Tantangan dan Peluang CCS/CCUS di Indonesia

Ecobiz.asia — Pengembangan Carbon Capture and Storage (CCS) dan Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS) di Indonesia membutuhkan pemahaman lintas disiplin, mulai dari teknologi...

Pemkab Aceh Tamiang, Fairatmos, Manka Jajaki Potensi Blue Carbon di 24.000 Hektare Mangrove

Ecobiz.asia – Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, Fairatmos, dan Mandala Katalika (Manka) menandatangani perjanjian kerja sama untuk menjajaki pengembangan proyek blue carbon berbasis ekosistem mangrove...

Dekarbonisasi Jadi Tuntutan Industri Tambang, Wamen LH Minta Emisi Dilaporkan ke SIGN-SMART

Ecobiz.asia – Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Diaz Hendropriyono mendorong industri pertambangan mempercepat dekarbonisasi dengan menghitung dan melaporkan emisi...

Bappenas Luncurkan Peta Jalan Karbon Biru 2026–2045, Dorong Investasi dan Perlindungan Ekosistem Pesisir

Ecobiz.asia – Kementerian PPN/Bappenas meluncurkan Peta Jalan Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Karbon Biru Indonesia 2026–2045 sebagai panduan integrasi pengelolaan ekosistem pesisir dan laut ke...

NCI dan Infini Asia Luncurkan FIST 1.0 untuk Perkuat Pengelolaan Data Proyek Nature-based Solutions

Ecobiz.asia — Nusantara Climate Initiative (NCI) bersama PT Inovasi Infini Asia (Infini Asia) meluncurkan Forest Integrated System for Transparency (FIST) Version 1.0, platform digital...

TOP STORIES

Aceh Tamiang, Fairatmos, Manka Explore Blue Carbon Potential Across 24,000 Hectares of Mangroves

Ecobiz.asia – The Aceh Tamiang administration, climate technology company Fairatmos and Mandala Katalika (Manka) have signed a cooperation agreement to explore a mangrove-based blue...

JDS dan ITB Bahas Tantangan dan Peluang CCS/CCUS di Indonesia

Ecobiz.asia — Pengembangan Carbon Capture and Storage (CCS) dan Carbon Capture, Utilization and Storage (CCUS) di Indonesia membutuhkan pemahaman lintas disiplin, mulai dari teknologi...

Indonesia Tawarkan Energi Hijau untuk Tarik Investasi Data Center

Ecobiz.asia — Pemerintah menawarkan potensi energi baru terbarukan (EBT) Indonesia untuk menarik investasi pusat data (data center), seiring meningkatnya kebutuhan listrik industri digital. Potensi...

Wärtsilä: Fleksibilitas Sistem Listrik Penting untuk Percepatan EBT dan Ekonomi Digital

Ecobiz.asia -- Percepatan energi terbarukan dan pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia membutuhkan sistem kelistrikan yang lebih fleksibel agar peningkatan pasokan listrik bersih tetap berjalan...

Pemkab Aceh Tamiang, Fairatmos, Manka Jajaki Potensi Blue Carbon di 24.000 Hektare Mangrove

Ecobiz.asia – Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, Fairatmos, dan Mandala Katalika (Manka) menandatangani perjanjian kerja sama untuk menjajaki pengembangan proyek blue carbon berbasis ekosistem mangrove...