Ecobiz.asia – Perusahaan venture builder dan investasi iklim berbasis di Singapura, 100×100, meluncurkan Pendanaan Tahap Kedua (Fund II) dengan target dana kelolaan sebesar US$100 juta untuk membangun dan mengembangkan 50 perusahaan berbasis solusi iklim di Asia Tenggara dan India.
Dana baru tersebut akan difokuskan pada pengembangan bisnis di sektor energi, pangan, material, dan rantai pasok yang dinilai memiliki peran penting dalam transisi menuju ekonomi rendah emisi.
Founding Partner 100×100, Marie Cheong, mengatakan perubahan lanskap ekonomi global, meningkatnya kebutuhan energi, keterbatasan sumber daya, serta dorongan kemandirian nasional membuka peluang besar bagi pengembangan perusahaan iklim.
“Kami percaya bahwa menyelesaikan tantangan emisi terbesar di dunia juga merupakan peluang ekonomi yang sangat besar,” kata Marie Cheong, Rabu (17/6/2026).
Menurutnya, strategi investasi 100×100 didasarkan pada keyakinan bahwa keuntungan ekonomi dan pengurangan emisi karbon dapat berjalan beriringan.
“Dengan Fund II, kami memperkuat strategi yang telah terbukti berhasil dan siap untuk diperluas,” ujarnya.
Berbeda dengan perusahaan modal ventura konvensional yang berinvestasi pada startup yang telah berdiri, 100×100 membangun perusahaan sejak tahap awal bersama para wirausahawan berpengalaman.
Setiap perusahaan yang dibangun ditargetkan mampu mengurangi emisi hingga 100 juta ton setara karbon dioksida (CO2e) sekaligus menghasilkan pendapatan tahunan minimal US$100 juta.
Peluncuran Fund II dilakukan setelah dana pertama 100×100 mencapai batas maksimal pendanaan sebesar US$60 juta pada 2023. Dana tersebut mendapat dukungan berbagai investor institusi, mitra strategis, dan family office internasional.
Sejumlah investor yang terlibat antara lain U.S. International Development Finance Corporation (DFC), Singapore Economic Development Board (EDB), British International Investment (BII), Triple Jump, Qarlbo Energy, JG Digital Equity Ventures, Kajima Corporation, dan Beacon Ventures.
Sejak berdiri, 100×100 telah ikut mendirikan 27 perusahaan iklim di delapan negara. Perusahaan mengklaim tingkat keberlangsungan usaha portofolionya hampir dua kali lebih tinggi dibanding rata-rata industri modal ventura.
Founding Partner 100×100, Quentin Vaquette, menilai Asia Tenggara dan Asia Selatan akan menjadi kawasan penting dalam upaya dekarbonisasi global sekaligus pusat pertumbuhan industri manufaktur, infrastruktur kecerdasan buatan, dan transformasi sistem pangan.
“Melalui pengembangan perusahaan-perusahaan iklim di kawasan ini, kami menargetkan kontribusi terhadap pengurangan hingga 10 persen emisi global secara kolektif sekaligus membangun peluang investasi yang paling menarik dalam dekade ini,” kata Quentin. ***



