Ecobiz.asia — PT Pertamina (Persero) memulai transformasi infrastruktur hilir energi nasional dengan menginisiasi Green Terminal di Terminal LPG Tanjung Sekong, Cilegon, Banten.
Fasilitas strategis yang menyuplai sekitar 35–40 persen kebutuhan LPG nasional ini ditetapkan sebagai proyek percontohan pengelolaan terminal berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG) sekaligus operasional rendah karbon.
Inisiatif ini menandai fase penting transformasi hilir Pertamina. Green Terminal tidak hanya berfokus pada sertifikasi fasilitas, tetapi menerapkan pendekatan menyeluruh terhadap tata kelola operasional melalui delapan pilar keberlanjutan.
Pilar tersebut mencakup sistem manajemen lingkungan, digitalisasi operasional, pemanfaatan peralatan ramah lingkungan, penerapan ekonomi sirkular dalam pengelolaan limbah, hingga penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui praktik terbaik lingkungan.
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, mengatakan pengembangan Green Terminal merupakan bagian dari penguatan ketahanan dan swasembada energi nasional yang berkelanjutan. Program ini sekaligus menjadi implementasi Roadmap Net Zero Emission (NZE) 2060 Pertamina di sektor hilir.
“Transformasi ini memastikan infrastruktur energi nasional tidak hanya andal secara operasional, tetapi juga relevan dengan standar keberlanjutan global. Integrasi teknologi hijau dan tata kelola yang lebih baik memperkuat fondasi ketahanan energi sekaligus meningkatkan kualitas pengelolaan risiko jangka panjang,” ujar Agung, Rabu (11/2/2026).
Terminal LPG Tanjung Sekong memiliki kapasitas penyimpanan hingga 98.000 metrik ton dan dermaga yang mampu melayani kapal berkapasitas 65.000 DWT.
Peran fasilitas ini dinilai krusial dalam menjaga stabilitas pasokan LPG rumah tangga. Transformasi menuju Green Terminal menunjukkan bahwa agenda keberlanjutan Pertamina dimulai dari infrastruktur inti penopang ketahanan energi nasional.
Salah satu terobosan utama dalam inisiatif ini adalah pengembangan ekosistem green hydrogen. Melalui sinergi antar entitas Pertamina Group, PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) memproduksi hidrogen hijau berbasis panas bumi dari Ulubelu.
Hidrogen tersebut kemudian didistribusikan oleh PT Elnusa Petrofin dan dimanfaatkan PT Pertamina Energy Terminal (PET) sebagai sumber listrik rendah karbon di Tanjung Sekong.
Skema ini ditargetkan mampu memenuhi hingga 25 persen kebutuhan listrik operasional terminal, sekaligus menurunkan emisi Scope 2 secara signifikan. ***




