Ecobiz.asia — Populasi satwa liar yang dipantau di dunia turun rata-rata 73% dalam 52 tahun, tetapi sejumlah pemulihan spesies menunjukkan bahwa tren kehilangan keanekaragaman hayati masih dapat dibalik.
Dalam konteks Indonesia, upaya pemulihan harimau Sumatra, penyu belimbing, dan gajah Sumatra menjadi contoh bahwa perlindungan habitat dan konservasi yang konsisten dapat menghasilkan perubahan positif.
Temuan tersebut tercantum dalam Living Planet Report (LPR) 2026 yang dirilis WWF pada Kamis (8/10/2026). Laporan tersebut mencatat penurunan rata-rata ukuran populasi satwa liar yang dipantau selama periode 1970–2022.
Laporan yang menggunakan Living Planet Index (LPI) dari Zoological Society of London (ZSL) menganalisis 35.803 tren populasi dari 5.790 spesies vertebrata. Penurunan paling tajam terjadi pada ekosistem air tawar sebesar 85%, disusul ekosistem darat 69% dan ekosistem laut 59%.
Di Indonesia, WWF-Indonesia melihat sejumlah perkembangan konservasi memberikan harapan bagi pemulihan populasi satwa.
Direktur Forest and Wildlife WWF-Indonesia Muhammad Ali Imron mengatakan temuan pemulihan beberapa spesies secara global menunjukkan bahwa pemulihan populasi satwa bukan sesuatu yang mustahil.
Menurut dia, pemulihan membutuhkan komitmen jangka panjang, perlindungan habitat, pengelolaan yang efektif, penegakan hukum, keterlibatan masyarakat, dan kolaborasi lintas pihak.
Dalam konteks harimau Sumatra, WWF-Indonesia mendukung Direktorat Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) dalam menjaga populasi Harimau Sumatra (Panthera tigris sumatrae). Sejumlah temuan di lanskap Bukit Rimbang Baling, Batang Hari, dan Bukit Tigapuluh menunjukkan indikasi positif terhadap keberlangsungan populasi pada tingkat lanskap.
Indikasi tersebut antara lain diperoleh melalui kamera jebak, temuan kelahiran anak harimau, serta rendahnya informasi mengenai kematian harimau.
Di sektor kelautan, WWF-Indonesia juga mencatat perkembangan perlindungan penyu belimbing (Dermochelys coriacea) di Pulau Buru, Maluku. Bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan, Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku, serta kelompok masyarakat pengawas Sugiraja Watulu, upaya perlindungan penyu dan telurnya mencapai sekitar 99% sarang terlindungi pada 2025.
Sementara untuk gajah, WWF-Indonesia melihat peluang pemulihan populasi Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) setelah pemerintah menerbitkan Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2026 untuk penyelamatan populasi dan habitat gajah Sumatra dan Kalimantan.
Peluang pembiayaan konservasi juga diperluas melalui pembentukan Satuan Tugas Inovasi Pembiayaan Pengelolaan Taman Nasional dan Konservasi Spesies Ikonik berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 2026. Satgas tersebut bertugas mencari sumber pendanaan baru dengan melibatkan berbagai pihak untuk mendukung pengelolaan 13 taman nasional dan dua lanskap di Indonesia.
Degradasi Habitat
Secara global, LPR 2026 mengidentifikasi hilangnya dan degradasi habitat sebagai ancaman paling sering dilaporkan terhadap populasi satwa liar, disusul eksploitasi berlebihan, perubahan iklim, polusi, spesies invasif, dan penyakit. Ancaman tersebut berkaitan dengan persoalan yang lebih luas dalam sistem pangan, energi, dan keuangan.
Laporan WWF menilai perubahan tidak cukup dilakukan melalui konservasi spesies semata. Sistem pangan, energi, dan keuangan juga perlu ditransformasi agar menciptakan positive tipping points atau titik balik positif bagi alam.
Di sektor energi, titik balik positif dinilai telah terlewati dengan tenaga surya menjadi sumber pembangkit listrik baru berbiaya paling rendah di sebagian besar negara. Namun, transisi energi masih dinilai belum berlangsung cukup cepat dan kemajuannya berbeda antarnegara maupun sektor.
Pada sistem pangan, perubahan menuju produksi yang berdampak positif bagi alam mulai berlangsung, termasuk melalui produksi dan konsumsi berkelanjutan serta pengurangan kehilangan dan pemborosan pangan. Sementara sektor keuangan masih membutuhkan percepatan untuk menghentikan pendanaan terhadap aktivitas yang merusak alam dan memperhitungkan risiko alam serta iklim dalam keputusan investasi.
Direktur Jenderal WWF-Internasional Kirsten Schuijt mengatakan pemulihan populasi harimau, tuna sirip biru, dan penyu hijau menunjukkan bahwa konservasi yang dilakukan secara konsisten dapat menghasilkan perubahan.
“Keanekaragaman hayati terus mengalami kerusakan dalam laju yang mengkhawatirkan. Namun, di tengah penurunan yang begitu tajam ini, masih ada alasan untuk berharap,” kata Schuijt.
Menurut laporan tersebut, tantangan berikutnya adalah memperluas keberhasilan konservasi sekaligus mengubah sistem pangan, energi, dan keuangan yang menjadi pendorong utama tekanan terhadap alam. WWF menilai momentum tersebut perlu diterjemahkan menjadi kebijakan dan investasi yang lebih cepat untuk mencapai target pemulihan keanekaragaman hayati pada 2030. ***




