Peresmian Ekosistem Baterai Terintegrasi, Bahlil Tekankan Hilirisasi Harus Berkelanjutan

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan pentingnya keberlanjutan ekonomi di wilayah yang menjadi lokasi proyek hilirisasi tambang. 

Ia meminta agar pembangunan tidak berhenti setelah fase eksploitasi selesai, melainkan dilanjutkan dengan diversifikasi ekonomi berbasis sektor lain seperti perikanan dan perkebunan.

“Jangan sampai kita menjadi negara dengan kutukan sumber daya alam. Setelah tambang selesai, harus sudah dirancang investasi pasca tambang yang tetap menggerakkan ekonomi daerah,” ujar Bahlil dalam acara peletakan batu pertama (groundbreaking) Ekosistem Industri Baterai Listrik Terintegrasi Konsorsium ANTAM–IBC–CBL di Karawang, Minggu (29/6/2025).

Read also:  PSEL Palembang Hasilkan Listrik 21,55 MW, Siap Beroperasi Penuh Mulai Desember

Proyek ekosistem baterai terintegrasi ini merupakan yang pertama di dunia dan terbesar di Asia Tenggara, dengan nilai investasi sebesar 5,9 miliar dolar AS. 

Konsorsium ini mengelola rantai pasok dari tambang nikel di Halmahera Timur hingga produksi baterai kendaraan listrik di Karawang, Jawa Barat.

Baca juga: Vanda RE Gandeng Black & Veatch untuk Proyek Surya-Baterai di Kepulauan Riau

Bahlil menyebut bahwa pada tahun ke-8 hingga ke-9 proyek berjalan, pemerintah akan mulai membangun pusat ekonomi baru berbasis perikanan dan perkebunan di lahan bekas tambang. 

Read also:  Transisi Energi Global Jadi Magnet Investasi, Indonesia Bidik 28 Komoditas untuk Hilirisasi Hijau

Tujuannya agar perputaran ekonomi tetap berlanjut meski fase tambang telah selesai.

Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang turut hadir dalam acara tersebut menyampaikan optimisme bahwa Indonesia dapat mencapai swasembada energi dalam waktu lima hingga enam tahun. 

Ia menyebut proyek ini sebagai bagian dari upaya besar mewujudkan kemandirian energi nasional.

Proyek strategis nasional ini mencakup area seluas 3.023 hektare dan diperkirakan menyerap sekitar 35 ribu tenaga kerja langsung dan tidak langsung. Selain itu, terdapat 18 proyek infrastruktur pendukung termasuk pembangunan dermaga multifungsi.

Read also:  Kemenhut Ungkap Dua Badak Sumatera di SRS Way Kambas Bunting, Harapan Populasi Bertambah

Baca juga: LG Batal Investasi Baterai EV, Aspebindo Serukan Peningkatan Kemandirian Hilirisasi Nasional

Secara bertahap, kapasitas produksi baterai kendaraan listrik dalam proyek ini ditargetkan mencapai 15 GWh, dari sebelumnya 6,9 GWh. Industri baterai terintegrasi ini diproyeksikan dapat menyuplai kebutuhan 300 ribu kendaraan listrik dan mengurangi impor bahan bakar minyak hingga 300 ribu kiloliter per tahun.

Dengan kehadiran proyek ini, pemerintah berharap Indonesia mampu menjadi pusat produksi baterai kendaraan listrik terbesar di kawasan, sekaligus menjamin keberlanjutan ekonomi di daerah tambang setelah proyek berakhir. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Lulus Diklat, 586 Polisi Kehutanan Langsung Terjun ke Tapak Dukung Pengendalian Karhutla

Ecobiz.asia — Sebanyak 586 personel Polisi Kehutanan (Polhut) menyelesaikan pendidikan dan pelatihan selama 60 hari dan disiapkan untuk memperkuat perlindungan hutan, penegakan hukum, serta...

Kronologi Gugurnya Empat Petugas Pemadam Karhutla di Bromo, Terjebak Api hingga Luka Bakar Berat

Ecobiz.asia — Empat petugas dan mitra pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meninggal dunia saat berupaya memadamkan kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger...

Bali Butuh Rp623,28 Triliun untuk Capai Emisi Nol Bersih 2045, Kesiapan Proyek Jadi Tantangan

Ecobiz.asia – Provinsi Bali membutuhkan investasi hijau sebesar Rp623,28 triliun hingga 2045 untuk mencapai target emisi nol bersih. Namun, keterbatasan fiskal daerah dan kesiapan...

Negosiasi INC on Plastic Pollution Alot, Indonesia Tak Tinggal Diam Tangani Sampah Plastik

Ecobiz.asia – Negosiasi perjanjian internasional untuk mengatasi polusi plastik, Intergovernmental Negotiating Committee (INC) on Plastic Pollution* masih menemui jalan buntu meski telah berlangsung sejak...

BPGMN Perkuat Pengelolaan Gambut dan Pemantauan Permukaan Air untuk Tekan Karhutla, 40 Cm Jadi Warning

Ecobiz.asia — Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) akan memperkuat pengelolaan gambut melalui pemetaan risiko kebakaran, pemodelan kondisi kekeringan, dan pemantauan tinggi muka...

TOP STORIES

Lulus Diklat, 586 Polisi Kehutanan Langsung Terjun ke Tapak Dukung Pengendalian Karhutla

Ecobiz.asia — Sebanyak 586 personel Polisi Kehutanan (Polhut) menyelesaikan pendidikan dan pelatihan selama 60 hari dan disiapkan untuk memperkuat perlindungan hutan, penegakan hukum, serta...

Sukses Ubah Emisi Karbon Jadi Soda Ash Bernilai Ekonomi, Kemenperin Dorong Teknologi CCU

Ecobiz.asia – Kementerian Perindustrian mendorong perluasan penerapan teknologi Carbon Capture and Utilization (CCU) untuk menekan emisi sekaligus menghasilkan produk bernilai ekonomi dari pemanfaatan kembali...

Sang Hyang Seri dan Legasi Alam Kembangkan Biochar, Bidik Peluang Perdagangan Karbon

Ecobiz.asia – PT Sang Hyang Seri (Persero) menjajaki pengembangan teknologi biochar untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus membuka peluang perdagangan karbon melalui penyimpanan karbon jangka...

NHM-Perhapi Maluku Utara Perkuat Link and Match Pendidikan dan Industri Tambang

Ecobiz.asia – PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) menggandeng Student Chapter Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI) Provinsi Maluku Utara untuk memperkuat keterkaitan antara pendidikan tinggi...

Kronologi Gugurnya Empat Petugas Pemadam Karhutla di Bromo, Terjebak Api hingga Luka Bakar Berat

Ecobiz.asia — Empat petugas dan mitra pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meninggal dunia saat berupaya memadamkan kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger...