Ecobiz.asia — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menjalin kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surabaya untuk mengembangkan living laboratory di Kebun Raya Mangrove Surabaya sebagai pusat riset, edukasi, dan inovasi berbasis ekosistem pesisir.
Kerja sama ini merupakan tindak lanjut nota kesepahaman antara ITS dan Pemerintah Kota Surabaya, dengan fokus pemanfaatan kawasan mangrove seluas 34 hektare sebagai lokasi penelitian lintas disiplin, termasuk biologi, perencanaan wilayah, arsitektur, dan teknologi maritim.
Rektor ITS Bambang Pramujati menyatakan kawasan tersebut memiliki potensi besar untuk pengembangan inovasi berbasis lingkungan.
“Saat ini beberapa petak lahan sudah digunakan untuk menguji sensor Internet of Things dan mencari benih padi yang adaptif bagi lahan mangrove,” ujarnya saat meninjau Kebun Raya Mangrove (KRM) Surabaya, Jumat (10/4/2026)
ITS juga mendorong pemanfaatan teknologi ramah lingkungan dalam pengelolaan kawasan, termasuk pengembangan transportasi sungai berbasis energi bersih.
“Ke depan, kita bisa kembangkan kapal bertenaga surya dan motor listrik agar lebih senyap dan ramah lingkungan,” kata Bambang.
Kepala BRIDA Surabaya Agus Imam Sonhaji menyatakan dukungan terhadap kolaborasi tersebut, khususnya dalam penguatan inovasi teknologi dan pemberdayaan masyarakat pesisir melalui pendekatan seperti silvofishery.
Kawasan Kebun Raya Mangrove Surabaya saat ini menjadi habitat berbagai spesies mangrove dan burung migran serta dikembangkan sebagai kawasan konservasi yang mengintegrasikan fungsi edukasi, riset, dan wisata.
Pengembangan living laboratory ini diharapkan memperkuat pemanfaatan teknologi dalam pengelolaan ekosistem pesisir serta mendukung pengembangan ekonomi berbasis lingkungan di wilayah Surabaya. ***



