Indonesia Raih Pendanaan Iklim US$9 Juta dari GCF untuk Perkuat Ketahanan Pesisir Jawa Tengah

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Indonesia memperoleh pendanaan iklim sebesar US$9 juta dari Green Climate Fund (GCF) untuk memperkuat ketahanan masyarakat pesisir di Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, dan Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Persetujuan tersebut sekaligus menjadi tonggak baru karena merupakan proyek pertama di Indonesia yang didanai melalui skema Direct Access Entity (DAE).

Pendanaan tersebut akan digunakan untuk menjalankan proyek Building Flood Resilient Community through Adaptive Livelihood and Runoff Management in Petanglong Area of Central Java Province of Indonesia (BRAVE) selama lima tahun.

Proyek BRAVE dirancang untuk meningkatkan ketahanan kawasan pesisir yang selama ini menghadapi ancaman banjir rob, abrasi, penurunan muka tanah, dan cuaca ekstrem akibat perubahan iklim.

Melalui program tersebut, Indonesia menargetkan pemulihan dan pengelolaan sekitar 3.700 hektare ekosistem pesisir, pengembangan mata pencaharian petani dan nelayan yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim, serta penguatan tata kelola adaptasi di tingkat daerah.

Read also:  DEN Dorong Indonesian Bioenergy Index untuk Percepat Pengembangan Bioenergi Nasional

Program ini ditargetkan memberikan manfaat langsung kepada 136.360 orang dan menjangkau lebih dari 1,2 juta penduduk di wilayah Pekalongan dan Batang.

Direktur Kerja Sama Multilateral dan Keuangan Berkelanjutan Kementerian Keuangan sekaligus Kepala Sekretariat National Designated Authority Green Climate Fund Indonesia, Boby Wahyu Hernawan, mengatakan persetujuan tersebut menunjukkan meningkatnya kapasitas Indonesia dalam mengakses dan mengelola pendanaan iklim internasional.

“Keberhasilan ini menunjukkan bahwa lembaga nasional mampu memenuhi standar internasional GCF sekaligus menegaskan pentingnya kesiapan nasional sebagai fondasi utama dalam mengakses pembiayaan iklim,” ujar Boby.

Menurut dia, akses terhadap pendanaan global membutuhkan kesiapan kelembagaan yang kuat karena setiap proposal harus memenuhi persyaratan ketat, mulai dari aspek perlindungan lingkungan dan sosial, tata kelola, mekanisme akuntabilitas, hingga penggunaan data ilmiah yang kredibel.

Direktur Regional GCF untuk Asia dan Pasifik, Hemant Mandal, mengatakan BRAVE menjadi tonggak penting bagi Indonesia maupun GCF karena menunjukkan bahwa pendekatan country ownership dapat diwujudkan melalui aksi adaptasi yang dipimpin lembaga nasional.

Read also:  Pemerintah Resmi Wajibkan Pencampuran Biodiesel 50%, Link Download SK Menteri ESDM

“Proyek ini menjadi tonggak penting, tidak hanya bagi Indonesia tetapi juga bagi Green Climate Fund. Sebagai proyek pertama di Indonesia yang didanai melalui skema Direct Access Entity, BRAVE menunjukkan bagaimana kepemilikan nasional dapat diterjemahkan menjadi aksi nyata di lapangan,” katanya.

Menurut Hemant, GCF menyetujui pendanaan tersebut karena BRAVE tidak hanya berfokus pada adaptasi perubahan iklim, tetapi juga membangun sistem ekonomi masyarakat yang lebih tangguh terhadap guncangan cuaca ekstrem.

Sebagai lembaga nasional pengelola dana, Direktur Eksekutif KEMITRAAN, Nurina Widagdo, mengatakan persetujuan tersebut membuka peluang lebih besar bagi Indonesia untuk mengakses pendanaan iklim internasional secara langsung.

“Persetujuan ini membuka peluang bagi Indonesia untuk menunjukkan bahwa lembaga nasional mampu mengelola pendanaan iklim internasional secara akuntabel. Kami bangga dapat menjadi bagian dari sejarah pendanaan iklim di Indonesia untuk menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat terdampak perubahan iklim,” ujarnya.

Read also:  Kemenhut Luncurkan LEVERAGE, Penegakan Hukum Kehutanan Diperkuat dengan Platform Aduan Digital

Dalam implementasinya, KEMITRAAN akan bekerja sama dengan pemerintah, Mercy Corps Indonesia sebagai Executing Entity, sektor swasta, akademisi, dan masyarakat untuk menjalankan program di kawasan PETANGLONG yang meliputi Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, dan Kabupaten Batang.

Direktur Eksekutif Mercy Corps Indonesia, Ade Soekadis, mengatakan program BRAVE tidak hanya berfokus pada pengurangan risiko iklim, tetapi juga memperkuat penghidupan masyarakat melalui pengembangan pertanian dan akuakultur yang lebih adaptif, pembangunan kawasan blue-green space, serta penguatan sistem informasi iklim.

“Harapan kami, BRAVE tidak hanya memberikan manfaat selama proyek berlangsung, tetapi juga meninggalkan kapasitas, pengetahuan, dan sistem yang akan terus memperkuat ketahanan masyarakat jauh setelah proyek ini selesai,” kata Ade. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Kemenhut Ubah Paradigma Rehabilitasi Hutan, Tak Lagi Sekadar Tanam Pohon

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menegaskan rehabilitasi hutan dan lahan tidak lagi cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial penanaman pohon. Program pemulihan lingkungan ke depan...

Indonesia Siap Pimpin Tata Kelola Gambut Tropis Dunia, Usulkan Penguatan ITPC

Ecobiz.asia – Pemerintah Indonesia menyatakan kesiapannya memimpin penguatan kerja sama internasional dalam pelindungan dan pengelolaan gambut tropis melalui International Tropical Peatland Center (ITPC). Langkah...

Blackout Bukti Ketergantungan Indonesia Pada Batubara, IEEFA Desak Percepatan PLTS Atap

Ecobiz.asia – Kasus pemadaman listrik (blackout) yang terjadi di Sumatera dan sistem Jawa-Madura-Bali menjadi alarm bagi Indonesia untuk mempercepat pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya...

Indonesia-Singapura Sepakati Kerja Sama Perlindungan Lingkungan, Fokus Perubahan Iklim hingga Ekonomi Sirkular

Ecobiz.asia – Indonesia dan Singapura menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) tentang perlindungan lingkungan hidup sebagai payung kerja sama kedua negara dalam menghadapi perubahan...

Pemerintah Resmi Wajibkan Pencampuran Biodiesel 50%, Link Download SK Menteri ESDM

Ecobiz.asia – Pemerintah resmi memberlakukan mandatori pencampuran biodiesel sebesar 50 persen (B50) ke dalam bahan bakar minyak jenis solar mulai 1 Juli 2026. Kebijakan...

TOP STORIES

Agrinas Palma-Pertamina Power Jalin Kerjasama, Reaktivasi Pabrik Biodiesel dan Kembangkan Bioetanol Singkong

Ecobiz.asia – PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) menggandeng PT Pertamina Power Indonesia (PPI) untuk mengembangkan proyek bioenergi melalui reaktivasi pabrik biodiesel serta pembangunan dua...

Pertamina dan Pupuk Indonesia Jajaki Sinergi Perkuat Ketahanan Energi dan Pangan

Ecobiz.asia – PT Pertamina (Persero) dan PT Pupuk Indonesia (Persero) menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk menjajaki berbagai peluang kerja sama strategis guna memperkuat ketahanan...

PHR Rampungkan Pemulihan 20 Lokasi Tanah Terkontaminasi Minyak, 43 Lokasi Proses Remediasi

Ecobiz.asia – PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) telah menyelesaikan pemulihan 20 lokasi tanah terkontaminasi minyak (TTM) di Wilayah Kerja (WK) Rokan, sementara 43 lokasi...

Kemenhut Ubah Paradigma Rehabilitasi Hutan, Tak Lagi Sekadar Tanam Pohon

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menegaskan rehabilitasi hutan dan lahan tidak lagi cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial penanaman pohon. Program pemulihan lingkungan ke depan...

Indonesia Siap Pimpin Tata Kelola Gambut Tropis Dunia, Usulkan Penguatan ITPC

Ecobiz.asia – Pemerintah Indonesia menyatakan kesiapannya memimpin penguatan kerja sama internasional dalam pelindungan dan pengelolaan gambut tropis melalui International Tropical Peatland Center (ITPC). Langkah...