Pemanfaatan Panas Bumi Tak Cukup Modal Teknik, Aspek Sosial Jadi Penentu

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Direktur Koaksi Indonesia, Indra Sari Wardhani, menegaskan pentingnya memperhatikan aspek sosial dalam pengembangan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP). Menurutnya, tantangan terbesar pengembangan panas bumi di Indonesia bukan semata teknis, melainkan sosial, yang kerap memicu konflik dengan masyarakat sekitar lokasi proyek.

“Sering kali risiko sosial dirasakan lebih dulu sebelum manfaat ekonomi dan energi dirasakan masyarakat. Ini yang membuat proyek panas bumi rentan mendapat penolakan,” kata Indra dalam seminar daring yang digelar Pusat Studi Energi Terbarukan Indonesia (ICRES), Jumat (1/8/2025).

Read also:  Prabowo Resmikan 11 Proyek Hilirisasi Nikel Senilai US$10,2 Miliar di IWIP

Ia menjelaskan, potensi panas bumi Indonesia yang terbesar di dunia harus diimbangi dengan pendekatan partisipatif. Pelibatan masyarakat sejak tahap eksplorasi dinilai krusial untuk meminimalkan konflik.

“Konsultasi yang bermakna, transparansi informasi, dan analisis dampak sosial-lingkungan yang serius harus menjadi bagian utama dari setiap proyek,” ujarnya.

Indra menilai banyak proyek gagal karena minim komunikasi, keterlibatan masyarakat, hingga respons lambat terhadap kecelakaan atau dampak lingkungan.

Read also:  Indonesia Luncurkan SOIFO 2026 di Markas FAO Roma: 95,5 Juta Hektare Hutan Jadi Modal Ketahanan Pangan dan Iklim

“Kisah kegagalan di satu lokasi bisa memicu ketidakpercayaan di wilayah lain,” katanya.

Koaksi Indonesia mencatat, PLTP berpotensi menciptakan 69 ribu lapangan kerja hijau, meningkatkan infrastruktur daerah terpencil, hingga membuka akses listrik bersih.

Namun, semua manfaat ini hanya bisa terwujud jika perusahaan dan pemerintah memperhatikan nilai sosial budaya lokal, prinsip kehati-hatian, serta standar keselamatan kerja yang ketat.

Ia juga menyinggung trauma masyarakat terhadap kasus semburan lumpur Lapindo yang membuat isu keselamatan pengeboran panas bumi sangat sensitif. “Kehati-hatian teknis harus diiringi kepekaan sosial. Perusahaan perlu mengakui hak-hak masyarakat adat dan membangun rasa memiliki terhadap proyek,” ujar Indra.

Read also:  Pusat Data Butuh Tambahan 20 GW, Bahlil Siapkan Energi Bersih untuk Batam–Karimun–Bintan

Menurutnya, keberhasilan proyek panas bumi membutuhkan perencanaan adaptif yang memadukan aspek teknis, sosial, budaya, dan lingkungan. “Tanpa pendekatan ini, konflik sosial akan terus menjadi hambatan utama bagi energi bersih di Indonesia,” tegasnya. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

IWC-11 Dorong Pembiayaan Inovatif untuk Perluas Solusi Pengelolaan Perairan Berkelanjutan

Ecobiz.asia – Pembiayaan inovatif dan keterlibatan masyarakat menjadi kunci untuk memperluas penerapan solusi pengelolaan perairan, mulai dari konservasi pesisir hingga penanganan sampah plastik. Isu...

Tak Tebang Pilih, Menhut Bekukan Izin Enam Perusahaan di Kalteng terkait Karhutla

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) membekukan izin enam perusahaan yang terkait dengan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah. Dengan penambahan tersebut,...

Kemenhut Tanggapi Kritik Greenpeace Soal Karhutla, Beberkan Operasi Pemadaman hingga Sanksi ke Perusahaan

Ecobiz.asia - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menanggapi kritik Greenpeace Indonesia dengan menegaskan bahwa anggapan pemerintah tidak bertindak dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak...

Pusat Data Butuh Tambahan 20 GW, Bahlil Siapkan Energi Bersih untuk Batam–Karimun–Bintan

Ecobiz.asia — Indonesia membutuhkan tambahan pasokan listrik sekitar 20 gigawatt (GW) untuk memenuhi kebutuhan pengembangan pusat data. Pemerintah menyiapkan Batam, Karimun, dan Bintan sebagai...

Transmisi Jadi Tantangan, PLN Sebut Butuh Investasi Rp3.400 Triliun Untuk Transisi Energi

Ecobiz.asia — Pembangunan jaringan transmisi menjadi salah satu tantangan utama transisi energi Indonesia karena sumber energi dan pusat permintaan listrik tersebar di wilayah berbeda....

TOP STORIES

PHE Andalkan Teknologi Geosains untuk Optimalkan Potensi Migas Nasional

Ecobiz.asia — PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Subholding Upstream Pertamina, mendorong pemanfaatan teknologi geosains untuk meningkatkan keberhasilan eksplorasi dan mengoptimalkan produksi lapangan minyak dan...

Pertagas Kerahkan Tim Tanggap Darurat untuk Bantu Penanganan Karhutla di Sumsel

Ecobiz.asia -- PT Pertamina Gas (Pertagas), bagian dari Subholding Gas Pertamina, mengerahkan tim tanggap darurat dan mobil pemadam kebakaran untuk membantu penanganan kebakaran hutan...

Uni Eropa Sepakati Kenaikan Ambang Penghapusan Kuota Karbon, Jaga Stabilitas Pasar

Ecobiz.asia – Dewan Uni Eropa dan Parlemen Eropa mencapai kesepakatan sementara untuk menaikkan ambang penghapusan kuota emisi dalam Market Stability Reserve (MSR) dari 400...

IWC-11 Dorong Pembiayaan Inovatif untuk Perluas Solusi Pengelolaan Perairan Berkelanjutan

Ecobiz.asia – Pembiayaan inovatif dan keterlibatan masyarakat menjadi kunci untuk memperluas penerapan solusi pengelolaan perairan, mulai dari konservasi pesisir hingga penanganan sampah plastik. Isu...

PEP Tanjung Salurkan 1,16 Juta Liter Air Bersih untuk Atasi Kekeringan dan Karhutla di Tabalong

Ecobiz.asia – PT Pertamina EP (PEP) Tanjung Field menyalurkan 1,156 juta liter air bersih untuk membantu masyarakat menghadapi kekeringan sekaligus mendukung penanganan kebakaran hutan...