Harga Nikel dan Biaya Modal Pengaruhi Kelayakan Proyek, Ekonomom Soroti Daya Saing Baterai

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Fluktuasi harga nikel, nilai tukar rupiah, dan tingginya biaya modal menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi kelayakan investasi proyek nikel di Indonesia. Di sisi hilir, industri baterai berbasis nikel juga menghadapi tantangan harga untuk bersaing dengan teknologi baterai lain, terutama pada segmen mobil listrik berukuran kecil.

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia sekaligus Senior Advisor on Economics and Policy BRI Danareksa Sekuritas, Prof. Telisa Aulia Falianty, mengatakan harga nikel dan kepastian pasokan menjadi pertimbangan utama dalam menilai kelayakan proyek. Selain itu, nilai tukar, biaya pendanaan, dan biaya energi turut memengaruhi perhitungan investasi.

Read also:  Tak Tebang Pilih, Menhut Bekukan Izin Enam Perusahaan di Kalteng terkait Karhutla

“Jadi, dari grafik ini kami menyimpulkan bahwa kelayakan proyek nikel bergantung pada harga atau pasokan. Dari sisi makroekonomi, tantangan yang kita hadapi ada pada nilai tukar, biaya modal, dan biaya energi,” ujar Telisa dalam The 5th Nickel Producers, Processors, and Buyers Conference di Jakarta, Kamis (5/11/2026).

Menurut dia, pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya pembelian barang impor yang digunakan dalam proses produksi. Sementara itu, suku bunga yang bertahan tinggi membuat biaya pembiayaan semakin mahal. Kenaikan harga minyak juga berpotensi menambah beban biaya operasional.

Karena itu, pengembang proyek perlu menunjukkan kemampuan investasi menghadapi berbagai tekanan tersebut untuk memperoleh pendanaan. Kepastian pasokan, kredibilitas operator, dan keberadaan calon pembeli menjadi sejumlah faktor yang diperhitungkan. Pengelolaan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), termasuk hubungan perusahaan dengan masyarakat sekitar, juga menjadi perhatian.

Read also:  Hotspot Turun 1.019 Titik, Operasi Karhutla dan Perlindungan Satwa Terus Diperkuat

Pada pengembangan baterai kendaraan listrik, Telisa menyoroti persaingan teknologi dan harga antara baterai berbasis nikel dan litium besi fosfat (LFP). Menurut dia, baterai LFP memiliki harga lebih rendah sehingga baterai berbasis nikel lebih sulit mencapai skala ekonomis untuk kendaraan listrik berukuran kecil.

Ia menilai baterai berbasis nikel lebih memungkinkan digunakan pada mobil listrik berukuran sedang hingga besar.

Telisa mengatakan saat ini dirinya terlibat dalam kajian bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian mengenai pengembangan baterai kendaraan listrik berbasis nikel. Salah satu opsi insentif yang dibahas adalah pembedaan perlakuan pajak pertambahan nilai (PPN) untuk kendaraan listrik berdasarkan jenis baterainya.

Read also:  Kabar Melegakan! Hotspot Terus Turun Jadi 93 Titik, Kemenhut Pastikan Tetap Siaga Kendalikan Karhutla

“Bagaimana kita membedakan PPN untuk kendaraan listrik dengan baterai LFP dan kendaraan listrik dengan baterai NMC? Seharusnya ada pembedaan antara kedua jenis baterai tersebut, misalnya,” katanya.

Menurut Telisa, pembahasan mengenai insentif tersebut selanjutnya akan dikoordinasikan dengan Kementerian Keuangan. Kajian yang sedang berjalan juga menghitung manfaat pengolahan nikel menjadi baterai di dalam negeri, termasuk nilai tambah, penciptaan lapangan kerja, dan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Cadangan Minyak Bersama Penting Meski ASEAN Beralih ke Energi Terbarukan

Ecobiz.asia – Kerja sama penyimpanan cadangan minyak darurat dinilai tetap penting bagi ASEAN meskipun kawasan ini beralih ke energi terbarukan. Selain menjaga ketahanan pasokan...

Bukti Keberhasilan 25 Tahun Reintroduksi Orangutan, Tiga Induk dan Anaknya Terpantau di Bukit Tiga Puluh

Ecobiz.asia — Tiga induk orangutan Sumatera bersama anaknya terpantau di kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, Jambi, sepanjang Januari hingga Oktober 2026. Temuan ini...

Empat Orangutan Dilepasliarkan di Hutan Kehje Sewen, Catherine hingga Marlon Pulang ke Alam Liar

Ecobiz.asia — Empat orangutan hasil rehabilitasi Pusat Rehabilitasi Orangutan Samboja Lestari dilepasliarkan ke Hutan Kehje Sewen, Kalimantan Timur, Kamis (5/11/2026). Keempat orangutan bernama Catherine,...

Strategi Komunikasi Berkelanjutan Semakin Dibutuhkan, CSCP Hadir Jembatani Sains, Kebijakan, dan Masyarakat

Ecobiz.asia - Komunikasi keberlanjutan semakin dibutuhkan untuk menjembatani ilmu pengetahuan, kebijakan, dan pemahaman masyarakat dalam menghadapi persoalan lingkungan. Informasi yang akurat dan mudah dipahami...

Kemenhut Bongkar ‘Pencucian’ Kayu Merbau Ilegal, 23 Kontainer Senilai Rp20,9 Miliar Diamankan

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengamankan 23 kontainer berisi kayu gergajian jenis merbau asal Nabire, Papua Tengah, di Terminal Berlian, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya....

TOP STORIES

Cadangan Minyak Bersama Penting Meski ASEAN Beralih ke Energi Terbarukan

Ecobiz.asia – Kerja sama penyimpanan cadangan minyak darurat dinilai tetap penting bagi ASEAN meskipun kawasan ini beralih ke energi terbarukan. Selain menjaga ketahanan pasokan...

As Shipping Seeks Cleaner Fuels, Pupuk Indonesia Eyes $500 Million Ammonia Hub in Batam to Challenge Singapore

Ecobiz.asia – Indonesia's state-owned fertilizer and petrochemical company Pupuk Indonesia is exploring an investment of up to US$500 million to develop an ammonia hub...

Ditjen Minerba Berikan 42 Apresiasi kepada Perusahaan Tambang atas Kinerja Sosial dan Lingkungan

Ecobiz.asia -- Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara (Ditjen Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memberikan 42 Apresiasi Minerba 2026 kepada badan usaha...

Bukti Keberhasilan 25 Tahun Reintroduksi Orangutan, Tiga Induk dan Anaknya Terpantau di Bukit Tiga Puluh

Ecobiz.asia — Tiga induk orangutan Sumatera bersama anaknya terpantau di kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh, Jambi, sepanjang Januari hingga Oktober 2026. Temuan ini...

Empat Orangutan Dilepasliarkan di Hutan Kehje Sewen, Catherine hingga Marlon Pulang ke Alam Liar

Ecobiz.asia — Empat orangutan hasil rehabilitasi Pusat Rehabilitasi Orangutan Samboja Lestari dilepasliarkan ke Hutan Kehje Sewen, Kalimantan Timur, Kamis (5/11/2026). Keempat orangutan bernama Catherine,...