Ecobiz.asia – PT Freeport Indonesia (PTFI) mengoperasikan 189 peralatan tambang bawah tanah dengan sistem kendali jarak jauh untuk mengurangi paparan pekerja terhadap area berbahaya. Teknologi tersebut diterapkan di tambang Grasberg Block Cave, mencakup 90 alat muat, 91 pemecah batu, dan delapan alat bor produksi.
Presiden Direktur PTFI Tony Wenas mengatakan, sejumlah peralatan tersebut dapat dioperasikan dari ruang kendali yang berjarak sekitar 10 kilometer dari lokasi kerja. Operator mengendalikan alat tanpa harus berada langsung di lorong tambang.
“Tujuannya adalah pertama adalah untuk keselamatan dari para karyawan sendiri,” ujar Tony dalam sesi Executive Dialogue bertema “Transformasi Teknologi dan Digitalisasi untuk Mewujudkan Operasi Pertambangan yang Cerdas, Produktif, dan Berkelanjutan” pada Minerba Convex di Jakarta, Selasa (4/11/2026).
Peralatan tersebut dilengkapi sensor untuk mendukung pengoperasian di lorong tambang. Alat muat digunakan untuk memindahkan bijih, sedangkan pemecah batu memperkecil material berukuran besar sebelum memasuki tahap pengolahan berikutnya.
“Dan yang terutama adalah untuk lebih mengurangi risiko terjadinya kecelakaan yang mengakibatkan dampak kepada manusia,” katanya.
Tony menjelaskan, penerapan kendali jarak jauh hanya berlaku pada kegiatan dan area tertentu. Pekerja tetap berada di bagian lain tambang, termasuk area layanan dan pengangkutan.
Penguatan teknologi keselamatan juga dilakukan melalui pemantauan aktivitas seismik, pergerakan tanah, cuaca, dan curah hujan. Sistem tersebut terhubung dengan sirene dan lampu peringatan, dengan warna merah sebagai tanda evakuasi dan hijau untuk kondisi operasi normal.
PTFI juga menggunakan sistem pelacakan posisi pekerja. Infrastruktur komunikasinya mencakup sekitar 7.300 radio komunikasi dan jaringan serat optik sepanjang hampir 700 kilometer.
Tony menyinggung insiden luncuran material basah pada September 2025 yang menewaskan tujuh pekerja. Dalam peristiwa tersebut, sekitar 800.000 ton material masuk ke beberapa tingkat tambang Grasberg Block Cave.
Menurut dia, sistem pelacakan memungkinkan perusahaan mengetahui lokasi pekerja yang terdampak. Namun, akses menuju lokasi tertutup material, sementara sejumlah infrastruktur komunikasi ikut terkena dampak.
Selain kendali jarak jauh, PTFI menggunakan 14 kereta listrik tanpa awak untuk mengangkut bijih. Satu rangkaian yang terdiri atas sekitar 10 gerbong dapat membawa sekitar 350 ton bijih.
Tony mengatakan, penggunaan kereta listrik tersebut mendukung efisiensi pengangkutan dibandingkan truk besar yang menggunakan bahan bakar diesel.
Dalam kegiatan penambangan, PTFI juga memanfaatkan teknologi untuk memantau kondisi batuan dan mengatur pengambilan bijih. Tony menjelaskan, tambang Grasberg Block Cave menggunakan metode block caving atau ambrukan terencana, yakni pengambilan bijih dari bagian bawah yang membuat massa batuan di atasnya runtuh sesuai rancangan.
Karena itu, urutan pengambilan bijih harus mengikuti pola penambangan yang telah direncanakan. Produksi tidak dapat diubah semata-mata mengikuti fluktuasi harga komoditas tanpa mempertimbangkan kondisi teknis tambang.
Untuk memahami kondisi batuan bawah permukaan, perusahaan menggunakan teknologi pencitraan muon yang memanfaatkan partikel kosmik untuk memetakan perbedaan kepadatan material. Data tersebut digunakan sebagai salah satu dasar pengambilan keputusan operasional.
PTFI juga menggunakan perangkat penanda untuk mengikuti pergerakan material dan memantau arah aliran bijih. Sementara itu, drone dimanfaatkan untuk memeriksa lorong, rongga, dan area yang sulit dijangkau pekerja. ***




