KLH Sudah Siapkan Draft Permen LH Biodiversity Credit, Cegah Praktik Makelar

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) telah menyiapkan rancangan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup tentang biodiversity credit.

Dalam draft yang disiapkan, peran dan praktik makelar (middleman) diminimalkan sehingga pembiayaan konservasi dapat langsung mengalir ke kegiatan pelestarian di lapangan dan masyarakat penjaga ekosistem.

Deputi Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLH/BPLH Noer Adi Wardojo mengatakan Draft Permen LH tentang Biodiversity credit disiapkan sebagai kebijakan payung untuk mengatur pengembangan kredit keanekaragaman hayati di Indonesia, termasuk memastikan pembagian manfaat yang adil bagi masyarakat lokal dan masyarakat adat.

Noer Adi mengingatkan agar pengembangan instrumen ini tidak mengulang persoalan yang muncul dalam pelaksanaan proyek kredit karbon, ketika biaya penyusunan dokumen dan proses pengembangan proyek berpotensi menyerap porsi besar pembiayaan.

Menurut dia, dana yang dihimpun melalui biodiversity credit semestinya lebih banyak digunakan untuk mendukung kerja-kerja konservasi, bukan habis untuk biaya administrasi dan jasa perantara.

Read also:  Pemetaan Digital Ungkap Potensi Karbon Lamun Indonesia, Nilainya Sangat Besar

“Jangan habis ongkos saja. Sebaiknya biaya yang besar itu benar-benar lebih banyak digunakan untuk kerja-kerja konservasi,” kata Noer saat diskusi Teman Lingkungan di Jakarta, Kamis (8/10/2026).

Kebijakan ini sesuai dengan arahan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Moh Jumhur Hidayat yang menginginkan agar penerima manfaat dari pendanaan konservasi adalah kegiatan di lapangan dan masyarakat yang benar-benar terlibat dalam kegiatan tersebut.

“Supaya ini tidak yang mendapatkan manfaat adalah Middleman,” kata Noer Adi.

Dalam pengembangan kebijakan biodiversity credit, KLH/BPLH telah membentuk tim teknis untuk menyiapkan pengembangan instrumen tersebut. Pembahasannya melibatkan kementerian terkait serta berbagai pemangku kepentingan, termasuk organisasi masyarakat sipil, masyarakat adat, dan komunitas lokal.

Read also:  Parlemen Godok RUU Perubahan Iklim Berkeadilan, Jaga Kepastian Aturan Proyek Karbon

KLH/BPLH akan menyiapkan kerangka kebijakan nasional, sementara kementerian dan lembaga sektoral, termasuk yang menangani kehutanan, kelautan, dan perikanan, akan menjalankan implementasi sesuai kewenangan masing-masing.

Pengembangan biodiversity credit merupakan salah satu opsi pembiayaan dalam agenda konservasi keanekaragaman hayati Indonesia. Pemerintah telah memiliki Indonesia Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) sebagai acuan strategi dan aksi keanekaragaman hayati nasional periode 2025–2045. Dokumen tersebut disusun lintas kementerian dan mencakup kebutuhan pembiayaan untuk mendukung konservasi.

Selain kredit keanekaragaman hayati, pembiayaan konservasi dapat dikembangkan melalui berbagai instrumen lain, seperti dana konservasi. Keterlibatan sektor swasta diharapkan memperluas sumber pendanaan, dengan tetap memastikan manfaat ekonomi dibagikan secara adil kepada pihak yang menjaga ekosistem.

Dalam penyusunan kebijakan, KLH/BPLH menekankan tiga prinsip utama, yakni integritas ilmiah, inklusi sosial, dan tata kelola yang transparan. Ketiga prinsip tersebut menjadi landasan agar kredit yang dihasilkan memiliki dasar ilmiah yang kuat, menghormati hak masyarakat, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Read also:  Tiga Start Up Iklim Dapat Suntikan Rp15 Miliar, Siap Uji Coba dan Komersialisasi di Indonesia

Masyarakat lokal dan masyarakat adat menjadi perhatian penting karena memiliki peran dalam menjaga ekosistem serta pengetahuan tradisional yang mendukung pengelolaan keanekaragaman hayati. Karena itu, rancangan kebijakan perlu disesuaikan dengan kondisi ekologis, sosial-ekonomi, budaya, dan kelembagaan Indonesia.

Selain menyiapkan regulasi, KLH/BPLH memperkuat dialog lintas pemangku kepentingan, menyusun kebijakan nature positive, dan mengembangkan proyek percontohan dengan mempertimbangkan kesiapan ekosistem serta manfaat sosial-ekonomi bagi masyarakat di sekitar kawasan bernilai konservasi tinggi

Pengembangan instrumen ini juga diarahkan untuk mendukung Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework dan persiapan Indonesia menuju COP17 Konvensi Keanekaragaman Hayati (CBD) di Armenia. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Gold Standard Luncurkan Metodologi G-RESET, Perluas Akses Pembiayaan Karbon untuk Proyek Energi Terbarukan

Ecobiz.asia – Lembaga standar karbon Gold Standard meluncurkan metodologi Grid-Connected Renewables, Storage and Energy Transition (G-RESET) untuk memperluas akses sertifikasi kredit karbon bagi proyek...

Soroti Perdagangan Karbon, Wamenhut Bicara Soal Transformasi Ekonomi Kehutanan Saat Dies Natalis Fahutan UGM

Ecobiz.asia - Kementerian Kehutanan mendorong transformasi ekonomi kehutanan dengan mengoptimalkan potensi biodiversitas dan jasa ekosistem, termasuk perdagangan karbon, untuk meningkatkan nilai ekonomi hutan sekaligus...

Parlemen Godok RUU Perubahan Iklim Berkeadilan, Jaga Kepastian Aturan Proyek Karbon

Ecobiz.asia – Parlemen mulai menyiapkan pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan Iklim Berkeadilan untuk memberikan kepastian dan menjaga konsistensi regulasi bagi proyek-proyek karbon yang...

Tiga Start Up Iklim Dapat Suntikan Rp15 Miliar, Siap Uji Coba dan Komersialisasi di Indonesia

Ecobiz.asia – Tiga perusahaan start up teknologi iklim mendapat suntikan dana Rp15 miliar untuk menguji solusi mereka di Indonesia, menandai meningkatnya aliran modal ke...

Potensi Kredit Karbon Riau Capai 11,7 Juta Ton CO₂e per Tahun, Nilainya Bisa US$235 Juta

Ecobiz.asia — Provinsi Riau memiliki potensi menghasilkan hingga 11,7 juta ton kredit karbon setara karbon dioksida (CO₂e) per tahun dari perlindungan hutan, pemulihan gambut,...

TOP STORIES

Gold Standard Luncurkan Metodologi G-RESET, Perluas Akses Pembiayaan Karbon untuk Proyek Energi Terbarukan

Ecobiz.asia – Lembaga standar karbon Gold Standard meluncurkan metodologi Grid-Connected Renewables, Storage and Energy Transition (G-RESET) untuk memperluas akses sertifikasi kredit karbon bagi proyek...

Soroti Perdagangan Karbon, Wamenhut Bicara Soal Transformasi Ekonomi Kehutanan Saat Dies Natalis Fahutan UGM

Ecobiz.asia - Kementerian Kehutanan mendorong transformasi ekonomi kehutanan dengan mengoptimalkan potensi biodiversitas dan jasa ekosistem, termasuk perdagangan karbon, untuk meningkatkan nilai ekonomi hutan sekaligus...

Dari Hidrogen Hijau hingga PLTGU, PLN NP Bekali Calon Pemimpin dengan Perspektif Transisi Energi

Ecobiz.asia -- PT PLN Nusantara Power (PLN NP) memperkenalkan berbagai inovasi teknologi energi bersih dan praktik pengelolaan pembangkitan kepada 40 peserta Program Presiden untuk...

Biaya dan Perizinan Jadi Tantangan Pengadaan Listrik Hijau bagi Industri Indonesia

Ecobiz.asia — Biaya listrik hijau dan kemudahan perizinan menjadi dua faktor utama yang memengaruhi keputusan perusahaan dalam mengakses energi terbarukan di Indonesia. Survei terhadap...

Ceria Corp Alirkan Air ke Sawah Terdampak Kemarau di Kolaka, Perkuat Sarana Pengairan

Ecobiz.asia – PT Ceria Nugraha Indotama (Ceria Corp) mengalirkan air ke sekitar 55 hektare persawahan di Kecamatan Wolo, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, untuk membantu...