Ecobiz.asia — Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo mengatakan tercapainya swasembada beras membuat pemerintah tidak lagi melihat kebutuhan untuk memperluas budidaya padi di kawasan hutan.
Ke depan, pemerintah akan mengandalkan intensifikasi pertanian untuk meningkatkan produksi pangan.
Saat menyampaikan pidatonya pada Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026, Hashim mengatakan target swasembada beras yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto pada 2029 telah tercapai tiga tahun lebih cepat.
“Presiden Prabowo menargetkan swasembada beras pada 2029. Saya dengan senang hati menyampaikan kepada teman-teman bahwa target ini telah kita capai tiga tahun lebih cepat,” ujarnya.
Hashim mengatakan capaian tersebut menjadi pertama kalinya Indonesia mencapai swasembada beras dalam 42 tahun. Menurut dia, cadangan beras pemerintah saat ini mencapai sekitar 5,3 juta ton dan terus bertambah hingga pemerintah perlu menyewa gudang milik swasta karena kapasitas gudang pemerintah tidak lagi mencukupi.
Menurut dia, peningkatan produksi selama ini didukung kebijakan yang memberikan insentif kepada petani. Pemerintah menaikkan harga pembelian beras dari sekitar Rp4.000 menjadi Rp6.500 per kilogram dan memangkas biaya pupuk sekitar 20 persen.
Menurut Hashim, tercapainya swasembada beras dapat dicapai tanpa perluasan lahan sawah di kawasan hutan, termasuk melalui program food estate seluas 2 juta hektare yang pernah dicanangkan.
“Karena keberhasilan pemerintah mencapai swasembada beras, pemerintah saat ini tidak perlu lagi memperluas budidaya beras di kawasan hutan. Program food estate 2 juta hektare sudah tercapai tanpa harus menanam di atas 2 juta hektare,” kata Hashim.
Dengan capaian tersebut, pemerintah akan mengubah strategi peningkatan produksi pangan dari ekstensifikasi menjadi intensifikasi, termasuk untuk komoditas pangan strategis lainnya seperti kedelai.
“Program yang akan kami dorong adalah intensifikasi. Kami tidak akan melakukan ekstensifikasi areal pertanian, tetapi melanjutkan langkah-langkah intensifikasi,” kata Hashim.
Intensifikasi akan dilakukan antara lain melalui penggunaan varietas dan benih unggul untuk meningkatkan produktivitas padi dan kedelai tanpa harus membuka lahan pertanian baru.
Hashim menegaskan pemerintah tidak lagi melihat kebutuhan untuk memperluas areal budidaya padi di kawasan hutan yang sebelumnya masuk dalam rencana pengembangan pangan.
“Pemerintah melihat tidak ada lagi kebutuhan untuk memperluas areal budidaya beras di kawasan hutan atau zona hutan yang diumumkan beberapa tahun lalu,” ujarnya.
Hashim menyebut perubahan pendekatan tersebut juga menjadi bagian dari komitmen pemerintah untuk menjaga keberlanjutan lingkungan sekaligus memenuhi kebutuhan pangan nasional.***




