Ecobiz.asia – Usaha tempe yang dikelola Pondok Pesantren Tarbiyatul Athfal, Temiyangsari, Kecamatan Kroya, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, kini mampu memproduksi sekitar 3 ton tempe per bulan dan memasok kebutuhan tiga titik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk program Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Usaha bernama Tempesantren tersebut dikembangkan melalui pendampingan PT Patra Drilling Contractor (PDC), termasuk dukungan pembangunan rumah produksi, peralatan, modal kerja, serta pelatihan pengelolaan produksi.
Direktur Utama PDC Hery Lesmana mengatakan produksi Tempesantren meningkat dari sebelumnya sekitar 30–40 kilogram per hari menjadi lebih dari 1 kuintal per hari.
“Sekarang sudah meningkat bahkan lebih dari 1 kuintal per hari,” kata Hery saat mengunjungi rumah produksi Tempesantren, Kamis (25/9/2026).
Menurut Hery, PDC melihat pengembangan usaha tersebut sejalan dengan kegiatan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan pesantren. PDC yang bergerak sebagai perusahaan jasa penunjang industri migas juga memiliki unit bisnis Food Lodging Services.
“Kami merasa cocok di sini. Kami juga melihat leverage-nya besar karena pesantren ini bisa membantu masyarakat. Sehingga kami melakukan pendampingan di sini,” ujarnya.
Untuk pembangunan rumah produksi dan pengadaan peralatan, PDC telah mengalokasikan sekitar Rp240 juta. Dukungan tersebut mencakup modal kerja dan peralatan produksi yang lebih higienis.
PDC juga memberikan pendampingan dan pelatihan hingga Tempesantren memperoleh sertifikasi halal dan kini dalam proses mendapatkan sertifikasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Hery mengatakan pendampingan PDC diarahkan pada tiga target, yakni meningkatkan produksi, memperbaiki higienitas, dan memperluas pemasaran.
“Jadi target kami ada tiga. Pertama, produksi meningkat dua kali lipat; kedua, tingkat higienitas meningkat jauh; dan ketiga, secara pemasaran produk laku terjual. Dari tiga target tersebut, semuanya tercapai dan bahkan lebih dari target kami,” katanya.
Ke depan, Tempesantren akan mengembangkan produk keripik tempe yang ditargetkan dapat masuk ke jaringan supermarket. Namun, pengembangan tersebut masih membutuhkan pemenuhan sejumlah persyaratan, termasuk aspek higienitas dan izin BPOM.
Suplai Tiga SPPG
Pimpinan Pondok Pesantren Tarbiyatul Athfal, Kiai Amin, mengatakan Tempesantren saat ini telah masuk dalam rantai pasok program MBG dengan memasok tempe ke tiga titik SPPG di wilayah sekitar.
“3 titik SPPG yang disuplai dari sini,” tuturnya.
Selain memasok SPPG, produk Tempesantren juga dipasarkan melalui warung-warung di sekitar pesantren. Pengembangan usaha ke depan mencakup produksi keripik tempe dan rencana pembangunan pabrik tahu.
Kiai Amin berharap pendampingan PDC dapat terus berlanjut. Menurut dia, dukungan PDC sebelumnya juga mencakup bantuan laptop dan modal usaha.
“Harapannya, kerja sama ini bisa terus dilanjutkan, jangan diputus. Kami sudah cukup lama bekerja sama. Dulu pernah diberikan laptop, kemudian kemarin diberikan modal, dan ini yang ketiga kalinya dengan modal yang lebih besar lagi,” ujarnya.
Pesantren tersebut juga menggratiskan biaya pendidikan bagi para santrinya. Saat ini terdapat sekitar 70 santri putra-putri tingkat Madrasah Aliyah, serta lebih dari 200 siswa tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs).
Marketing Tempesantren Makrus Ali mengatakan peningkatan kapasitas produksi turut meningkatkan skala usaha. Dengan produksi sekitar 1 kuintal per hari, Tempesantren mencatat omzet sekitar Rp2,5 juta per hari atau Rp75 juta per bulan.
Dari omzet tersebut, pendapatan bersih yang diperoleh sekitar Rp500.000 per hari atau Rp15 juta per bulan setelah memperhitungkan biaya bahan baku dan operasional.
“Pendapatan bersih Rp500 ribu per hari dari omzet Rp2,5 juta yang diputar untuk bahan baku dan operasional,” kata Makrus.
Tempesantren kini telah mampu menjalankan usaha secara mandiri dan diharapkan menjadi sarana pembelajaran kewirausahaan bagi santri sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat di sekitar pesantren. ***





