Ecobiz.asia — PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) terus mengoptimalkan pemanfaatan jaringan gas bumi (jargas) di Sleman, Yogyakarta, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga mendukung kegiatan usaha masyarakat.
Area Head PGN Semarang Sugianto Eko Cahyono mengatakan keberadaan jargas akan memberikan manfaat yang lebih luas apabila infrastruktur tersebut juga dimanfaatkan untuk mendukung aktivitas ekonomi, termasuk restoran, UMKM, dan pelaku usaha lainnya.
“Bagi kami, keberadaan jargas bukan hanya mengenai tersedianya energi di rumah pelanggan. Ketika gas bumi juga dapat dimanfaatkan oleh restoran, UMKM, dan pelaku usaha lainnya, manfaat infrastrukturnya menjadi lebih luas karena ikut mendukung kegiatan ekonomi masyarakat,” ujar Sugianto di sela-sela kunjungan media di Yogyakarta, Rabu (19/8).
Hingga 2026, jaringan gas bumi PGN di wilayah Sleman telah melayani 4.545 pelanggan rumah tangga, enam pelanggan kecil, serta empat pelanggan komersial/industri.
Menurut Sugianto, PGN terus mengoptimalkan jaringan yang telah tersedia dengan mempertimbangkan kebutuhan pelanggan dan aspek keekonomian. Langkah tersebut dilakukan agar infrastruktur jargas yang telah dibangun dapat memberikan manfaat secara maksimal bagi masyarakat.
“PGN terus mengoptimalkan pemanfaatan jaringan gas bumi yang telah tersedia dengan mempertimbangkan kebutuhan pelanggan dan aspek keekonomian. Kami ingin memastikan infrastruktur yang sudah dibangun dapat memberikan manfaat seluas-luasnya, baik bagi rumah tangga maupun kegiatan usaha masyarakat,” jelasnya.
Salah satu pelanggan komersial PGN di Yogyakarta adalah RM Padang Payakumbuah. Restoran tersebut telah menggunakan gas bumi sejak November 2024 untuk mendukung kebutuhan operasional dapurnya.
Sementara itu, Manajemen RM Padang Payakumbuah Yogyakarta, Adi Saputra, mengatakan penggunaan gas bumi memberikan manfaat berupa keamanan dan kepastian pasokan energi, terutama karena kebutuhan bahan bakar restoran berlangsung setiap hari.
“Dua manfaat penting yang kami rasakan dari penggunaan gas bumi adalah keamanan dan kepastian pasokan. Keduanya sangat penting bagi bisnis kuliner karena kebutuhan bahan bakar berlangsung setiap hari, termasuk ketika aktivitas dapur sedang tinggi seperti saat libur panjang,” ujar Adi.
Saat ini, RM Padang Payakumbuah Yogyakarta menggunakan sekitar 1.900–2.000 meter kubik gas bumi per bulan. Penggunaan gas bumi tersebut mampu memberikan efisiensi biaya bahan bakar sekitar 30%.
Sebelum menggunakan gas bumi, pengeluaran bahan bakar restoran tersebut dapat mencapai sekitar Rp40 juta per bulan. Setelah beralih ke gas bumi, biaya tersebut turun menjadi sekitar Rp25–30 juta per bulan.
Efisiensi serupa juga dirasakan pelaku usaha kuliner lainnya. Nasi Goreng Pak Wit, misalnya, telah menggunakan gas bumi dalam sekitar satu tahun terakhir.
Menurut Elin, pemilik Nasi Goreng Pak Wit, biaya bahan bakar yang sebelumnya mencapai sekitar Rp1,5 juta per bulan kini turun menjadi sekitar Rp600 ribu per bulan setelah menggunakan gas bumi.
Selain efisiensi biaya, PGN juga memberikan perhatian terhadap aspek keamanan dan keandalan layanan. Pelanggan mendapatkan dukungan monitoring instalasi serta layanan penanganan gangguan selama 24 jam.
Setiap laporan gangguan yang masuk akan ditindaklanjuti oleh tim penanganan gangguan sesuai dengan prosedur yang berlaku.
Dari sisi keselamatan, gas bumi disalurkan dengan tekanan rendah sehingga potensi dampak akibat tekanan gas dapat diminimalkan. Gas bumi juga memiliki massa jenis yang lebih ringan dibandingkan udara sehingga cenderung bergerak ke atas apabila terlepas ke udara.
Karena itu, PGN mengingatkan pentingnya ventilasi yang memadai sebagai salah satu aspek keselamatan untuk mencegah terjadinya akumulasi gas di dalam ruangan apabila terjadi kebocoran.
Dengan jumlah pelanggan yang terus berkembang, PGN melihat jargas sebagai salah satu infrastruktur strategis untuk memperluas pemanfaatan gas bumi sekaligus mendukung aktivitas ekonomi di daerah.
Ke depan, pemanfaatan jaringan yang telah tersedia akan terus dioptimalkan dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat, keekonomian, serta kesiapan infrastruktur.
“Ketika jaringan yang sudah tersedia dapat dimanfaatkan tidak hanya oleh rumah tangga, tetapi juga oleh pelaku usaha, maka nilai manfaat dari infrastruktur tersebut akan semakin besar,” kata Sugianto. ***



