Ecobiz.asia — Potensi panas bumi di Sumatera yang diperkirakan mencapai 9 gigawatt (GW) berpeluang mendukung pemenuhan kebutuhan listrik di Jawa. Namun, pemanfaatan sumber energi tersebut lintas pulau membutuhkan pengembangan jaringan transmisi yang mampu menghubungkan lokasi sumber energi dengan pusat permintaan listrik.
Pjs Vice President Business Development PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Gadhavi Fatony mengatakan, Indonesia memiliki potensi panas bumi sekitar 24 GW atau setara dengan 40% dari potensi panas bumi dunia. Meski demikian, pemanfaatannya masih terbatas.
Kapasitas terpasang panas bumi nasional saat ini baru sekitar 2,6 GW, atau sekitar 10–11% dari potensi yang tersedia. Kondisi tersebut menunjukkan masih besarnya ruang pengembangan energi panas bumi di Indonesia.
“Geothermal sendiri di Indonesia itu merupakan indigenous energy yang memang harus kita manfaatkan. Dan kemudian selain bersih, dan ini juga stabil,” kata Gadhavi saat webinar IATMI Energy Talks bertajuk “Indonesia’s Energy Transition: Integrating Policy, Power Sector Transformation & Environmental Sustainability Toward Net Zero Emissions” yang diselenggarakan IATMI SM TAU di Jakarta, Sabtu (17/10/2026).
Menurut Gadhavi, tantangan pengembangan panas bumi tidak hanya berkaitan dengan potensi sumber daya, tetapi juga kesiapan infrastruktur untuk menyalurkan listrik ke wilayah yang membutuhkan.
Sumatera memiliki potensi panas bumi sekitar 9 GW. Sementara itu, kebutuhan listrik yang besar juga terkonsentrasi di Jawa. Karena itu, pengembangan jaringan transmisi antarpulau atau supergrid menjadi salah satu faktor penting agar sumber energi di Sumatra dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan di wilayah lain.
Pengembangan jaringan tersebut diperlukan untuk mengatasi ketidaksesuaian lokasi antara sumber energi dan pusat permintaan. Tanpa infrastruktur transmisi yang memadai, potensi energi terbarukan di suatu wilayah akan sulit dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung sistem kelistrikan yang lebih luas.
Di sisi lain, pengembangan panas bumi masih menghadapi tantangan investasi. Proyek panas bumi membutuhkan modal awal besar, termasuk untuk kegiatan eksplorasi yang memiliki risiko tinggi. Kepastian tarif listrik, perjanjian jual beli listrik atau power purchase agreement (PPA), serta akses pembiayaan turut memengaruhi kelayakan proyek.
Gadhavi menilai, pengembangan panas bumi membutuhkan dukungan kebijakan dan skema bisnis yang mampu memberikan kepastian bagi pengembang. Dukungan lembaga pembiayaan pembangunan internasional juga dapat membantu, tetapi perlu diikuti fleksibilitas dalam pengembangan jaringan dan pengaturan jual beli listrik.
Panas bumi memiliki keunggulan berupa pasokan listrik yang relatif stabil dengan faktor kapasitas sekitar 90%. Karakteristik tersebut membedakannya dari sejumlah sumber energi terbarukan yang produksinya bergantung pada kondisi cuaca atau intensitas sinar matahari.
Karena dapat memasok listrik secara berkelanjutan, panas bumi berpotensi mendukung keandalan sistem kelistrikan seiring meningkatnya pemanfaatan energi terbarukan. Namun, potensi tersebut tetap bergantung pada kesiapan jaringan, kepastian keekonomian proyek, dan kemampuan sistem menyerap tambahan pasokan listrik.
PGE Bidik Kapasitas 1.427 MW pada 2030
PGE menjadi salah satu perusahaan yang berupaya meningkatkan pemanfaatan panas bumi nasional. Perusahaan saat ini memiliki kapasitas terpasang sekitar 727 MW dan menargetkan peningkatan menjadi 1.427 MW pada 2030.
Sepanjang 2025, produksi listrik PGE mencapai 5.095 gigawatt-jam (GWh). Produksi tersebut disebut setara dengan menggantikan penggunaan sekitar 25.000 barel minyak per hari dan menghindari emisi sekitar 4,2 juta ton.
Selain menghasilkan listrik, PGE juga menjajaki pemanfaatan panas bumi untuk kegiatan ekonomi lain. Pemanfaatan langsung energi panas bumi, antara lain, dilakukan untuk membantu pengolahan kopi oleh petani di Kamojang serta produksi gula aren di Lahendong.
Perusahaan juga mengkaji pemanfaatan silika dari fluida panas bumi untuk bahan baku pupuk. Di sisi lain, PGE menjajaki pengembangan hidrogen hijau, amonia, serta penyediaan energi bersih untuk pusat data bersama sejumlah mitra.
Meski demikian, sejumlah inisiatif tersebut masih berada pada tahap penjajakan atau kajian sehingga belum seluruhnya dapat diperhitungkan sebagai tambahan kapasitas usaha.
PGE juga mengembangkan bisnis teknologi pendukung panas bumi melalui Flow2Max, alat pengukur aliran fluida dua fase yang telah dipasarkan di Filipina. Perusahaan membidik peluang penggunaan teknologi tersebut oleh perusahaan panas bumi lain di dalam negeri. ***




