Ecobiz.asia — Keterbatasan jaringan pipa gas bumi mendorong PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) melalui anak usahanya PT Gagas Energi Indonesia (PGN Gagas) memperluas akses energi gas bumi melalui layanan Compressed Natural Gas (CNG) di Yogyakarta dan wilayah Jawa Tengah bagian selatan.
Melalui skema non-pipa tersebut, gas bumi dapat dikompresi, diangkut, dan disalurkan kepada pelanggan menggunakan moda transportasi khusus sehingga pemanfaatannya tidak bergantung pada ketersediaan jaringan pipa di lokasi pelanggan.
Direktur Utama PGN Gagas Santiaji Gunawan mengatakan pengembangan CNG di Jawa Tengah bagian selatan, termasuk Yogyakarta, dilakukan dengan dua pendekatan, yakni klastering dan point-to-point.
“PGN Gagas mengembangkan CNG Jawa Tengah Bagian Selatan, termasuk Yogyakarta, menggunakan skema klastering dan point-to-point. Kami menargetkan klastering pada sektor hotel, restoran, dan kafe (Horeka), sehingga pengiriman CNG dapat dilakukan kepada sejumlah pelanggan dalam satu kawasan dan lebih efisien,” jelas Santiaji saat kunjungan sejumlah media di Yogyakarta, Rabu (19/8).
Melalui skema point-to-point, CNG disalurkan langsung dari sumber atau fasilitas pengisian menuju pelanggan sesuai kebutuhan. Sementara skema klastering memungkinkan sejumlah pelanggan yang berada dalam satu kawasan mendapatkan layanan secara lebih terintegrasi.
Model tersebut memungkinkan PGN Gagas memperluas pemanfaatan gas bumi ke wilayah yang belum terhubung jaringan pipa tanpa harus menunggu pembangunan infrastruktur pipa baru.
Di Yogyakarta dan wilayah Jawa Tengah bagian selatan, pemanfaatan CNG saat ini berkembang terutama untuk memenuhi kebutuhan energi sektor hotel, restoran, dan kafe (Horeka).
Volume penyaluran CNG PGN Gagas melalui skema point-to-point di Jawa Tengah bagian selatan telah mencapai sekitar 74.000 meter kubik per bulan.
Bagi sektor Horeka, ketersediaan energi secara konsisten menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga kelancaran operasional. Dengan karakteristik kebutuhan energi yang berlangsung setiap hari, fleksibilitas pasokan dan efisiensi biaya menjadi pertimbangan dalam pemilihan sumber energi.
Pengembangan CNG juga mulai menjangkau kebutuhan pelayanan publik. Di Magelang, Jawa Tengah, CNG telah digunakan untuk mendukung operasional salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
CNG digunakan untuk mendukung kegiatan memasak sekitar 1.500–2.000 porsi MBG per hari. Pemanfaatan tersebut menunjukkan bahwa layanan CNG dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan yang memerlukan pasokan bahan bakar secara rutin dan berkelanjutan.
Menurut Santiaji, peluang pengembangan CNG di Jawa Tengah bagian selatan masih terbuka seiring dengan pertumbuhan sektor pariwisata dan kegiatan ekonomi masyarakat.
“Pertumbuhan layanan CNG di Jawa Tengah Bagian Selatan memiliki prospek yang menarik seiring dengan berkembangnya sektor pariwisata seperti perhotelan, kuliner, jasa, dan UMKM. Kehadiran layanan CNG diharapkan dapat memberikan kemudahan dalam pemenuhan kebutuhan energi sekaligus mendukung produktivitas masyarakat,” ujarnya.
PGN Gagas selanjutnya akan mengembangkan layanan CNG dengan mempertimbangkan kebutuhan pelanggan, aspek keekonomian, serta potensi pertumbuhan pasar di masing-masing wilayah.
Pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya PGN menghadirkan solusi pemanfaatan gas bumi yang lebih fleksibel, sekaligus memperluas akses energi gas bumi ke sektor komersial dan berbagai kegiatan produktif masyarakat.
Dengan kombinasi skema klastering dan point-to-point, CNG menjadi salah satu alternatif PGN Gagas untuk memperluas pasar gas bumi di wilayah yang belum terjangkau jaringan pipa, sekaligus membuka peluang pemanfaatan gas bumi yang lebih luas bagi pelaku usaha dan fasilitas pelayanan publik. ***



