Kemarau Lebih Kering, Kemenhut Perkuat Antisipasi Karhutla 2026

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi peningkatan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada 2026 melalui koordinasi lintas lembaga bersama BMKG dan BNPB.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan risiko karhutla tahun ini meningkat seiring proyeksi musim kemarau yang datang lebih awal dan berlangsung lebih panjang.

“Potensi kebakaran hutan dan lahan tahun 2026 akan lebih mengancam dibandingkan tahun lalu,” ujarnya pada Konferensi Pers pasca Rapat Koordinasi Terbatas Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan 2026, di Jakarta, Senin, (06/04/2026).

Read also:  Bupati Trenggalek Ubah Sampah Jadi Bernilai Lewat Konsep Waste to Coin, Seperti Apa?

Data Kemenhut menunjukkan luas karhutla pada Januari–Februari 2026 mencapai 32.637,43 hektare. Sementara pada Maret 2026 diperkirakan bertambah 10.175,48 hektare, dengan sebaran terbesar di Riau 8.858,87 hektare dan Kalimantan Barat 1.134,16 hektare.

Peningkatan juga terlihat dari jumlah titik panas. Berdasarkan pemantauan sistem SiPongi, periode 1 Januari–5 April 2026 tercatat 702 hotspot, melonjak dari 125 titik pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyatakan musim kemarau tahun ini diprediksi lebih kering dari normal dengan curah hujan di bawah rata-rata 30 tahun terakhir.

Read also:  Indonesia Sukses Swasembada Beras, Hashim Sebut Perluasan Sawah di Kawasan Hutan tak Lagi Diperlukan

BMKG juga memproyeksikan potensi El Niño berkembang pada semester kedua 2026, meski saat ini masih dalam fase lemah hingga moderat.

“Kita akan terus pantau, apa yang terjadi tahun ini kita pantau hingga di tahun 2027 nanti,” ujarnya

BMKG mencatat hingga akhir Maret 2026 sekitar 7% zona musim di Indonesia telah memasuki kemarau dan jumlahnya diperkirakan meningkat signifikan pada April hingga Juni.

Untuk mendukung pengendalian karhutla, BNPB menyiapkan 16 helikopter water bombing dan 12 helikopter patroli yang dapat ditambah sesuai eskalasi kondisi di lapangan.

Read also:  IWC-11 Dorong Pembiayaan Inovatif untuk Perluas Solusi Pengelolaan Perairan Berkelanjutan

Upaya mitigasi juga dilakukan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), khususnya di Riau dengan dua tahap operasi dan total 24 sortie penyemaian garam.

Selain itu, operasi udara diperkuat untuk patroli, verifikasi hotspot, dan pemadaman di wilayah sulit dijangkau, guna mempercepat respons penanganan kebakaran.

Pemerintah menegaskan koordinasi lintas kementerian, TNI, Polri, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat akan terus ditingkatkan sesuai amanat Inpres Nomor 3 Tahun 2020 tentang penanggulangan karhutla. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

IWC-11 Dorong Pembiayaan Inovatif untuk Perluas Solusi Pengelolaan Perairan Berkelanjutan

Ecobiz.asia – Pembiayaan inovatif dan keterlibatan masyarakat menjadi kunci untuk memperluas penerapan solusi pengelolaan perairan, mulai dari konservasi pesisir hingga penanganan sampah plastik. Isu...

Tak Tebang Pilih, Menhut Bekukan Izin Enam Perusahaan di Kalteng terkait Karhutla

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) membekukan izin enam perusahaan yang terkait dengan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah. Dengan penambahan tersebut,...

Kemenhut Tanggapi Kritik Greenpeace Soal Karhutla, Beberkan Operasi Pemadaman hingga Sanksi ke Perusahaan

Ecobiz.asia - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menanggapi kritik Greenpeace Indonesia dengan menegaskan bahwa anggapan pemerintah tidak bertindak dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak...

Pusat Data Butuh Tambahan 20 GW, Bahlil Siapkan Energi Bersih untuk Batam–Karimun–Bintan

Ecobiz.asia — Indonesia membutuhkan tambahan pasokan listrik sekitar 20 gigawatt (GW) untuk memenuhi kebutuhan pengembangan pusat data. Pemerintah menyiapkan Batam, Karimun, dan Bintan sebagai...

Transmisi Jadi Tantangan, PLN Sebut Butuh Investasi Rp3.400 Triliun Untuk Transisi Energi

Ecobiz.asia — Pembangunan jaringan transmisi menjadi salah satu tantangan utama transisi energi Indonesia karena sumber energi dan pusat permintaan listrik tersebar di wilayah berbeda....

TOP STORIES

Pertagas Kerahkan Tim Tanggap Darurat untuk Bantu Penanganan Karhutla di Sumsel

Ecobiz.asia -- PT Pertamina Gas (Pertagas), bagian dari Subholding Gas Pertamina, mengerahkan tim tanggap darurat dan mobil pemadam kebakaran untuk membantu penanganan kebakaran hutan...

Uni Eropa Sepakati Kenaikan Ambang Penghapusan Kuota Karbon, Jaga Stabilitas Pasar

Ecobiz.asia – Dewan Uni Eropa dan Parlemen Eropa mencapai kesepakatan sementara untuk menaikkan ambang penghapusan kuota emisi dalam Market Stability Reserve (MSR) dari 400...

IWC-11 Dorong Pembiayaan Inovatif untuk Perluas Solusi Pengelolaan Perairan Berkelanjutan

Ecobiz.asia – Pembiayaan inovatif dan keterlibatan masyarakat menjadi kunci untuk memperluas penerapan solusi pengelolaan perairan, mulai dari konservasi pesisir hingga penanganan sampah plastik. Isu...

PEP Tanjung Salurkan 1,16 Juta Liter Air Bersih untuk Atasi Kekeringan dan Karhutla di Tabalong

Ecobiz.asia – PT Pertamina EP (PEP) Tanjung Field menyalurkan 1,156 juta liter air bersih untuk membantu masyarakat menghadapi kekeringan sekaligus mendukung penanganan kebakaran hutan...

Tak Tebang Pilih, Menhut Bekukan Izin Enam Perusahaan di Kalteng terkait Karhutla

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) membekukan izin enam perusahaan yang terkait dengan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah. Dengan penambahan tersebut,...