Ecobiz.asia — PT Pertamina (Persero) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menguji teknologi PertaPURE untuk mengolah air terproduksi (produced water) dari kegiatan produksi minyak dan gas bumi di Lapangan Bekasap, Zona Rokan, Riau. Teknologi ini ditujukan untuk mengubah air yang selama ini menjadi beban pengelolaan operasi migas menjadi sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali.
Perwakilan Technology Innovation Upstream & Low Carbon Pertamina, Welly Setyawan, mengatakan gagasan pemanfaatan kembali air terproduksi muncul pada 2022. Saat itu, fungsi riset Pertamina diminta mengkaji kemungkinan mengubah biaya pengelolaan air tersebut menjadi sumber pendapatan.
“Apakah bisa produced water yang tadinya menjadi beban, menjadi cost, diubah menjadi justru kebalikannya, menjadi revenue generator,” kata Welly dalam webinar Wastewater Treatment: From Pollutant Removal to the Circular Economy and Future Challenges yang diselenggarakan Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih BRIN, Jumat (16/10/2026).
Air terproduksi merupakan air yang berasal dari reservoir atau ikut terangkat selama produksi minyak dan gas, termasuk air yang sebelumnya diinjeksikan kembali ke reservoir. Pada lapangan migas yang telah tua, volumenya cenderung meningkat. Dalam kondisi tertentu, cairan yang dihasilkan dapat terdiri atas 90% air dan 10% minyak.
Air tersebut tidak dapat langsung digunakan karena dapat mengandung hidrokarbon terlarut, senyawa organik, fenol, logam berat, serta padatan terlarut total (total dissolved solids/TDS) dengan salinitas tinggi.
Welly menyebut volume air terproduksi di wilayah operasi Rokan pada 2022 mencapai 7,3 juta barel per hari atau setara sekitar 1,1 juta meter kubik per hari. Dari jumlah tersebut, sekitar 0,7 juta barel per hari disebut sebagai volume yang dibuang ke lingkungan setelah memenuhi spesifikasi yang ditetapkan.
“Nah, inilah menjadi target kami, bagaimana bisa tidak sih yang 0,7 juta barel ini kita manfaatkan, kita reutilisasi dengan menggunakan teknologi tentunya,” ujar Welly.
Selama ini, air terproduksi dipisahkan dari minyak, diendapkan, didinginkan, dan diolah hingga memenuhi spesifikasi. Sebagian air dikembalikan ke reservoir untuk menjaga tekanan, sedangkan sisanya dapat dialirkan ke lingkungan setelah memenuhi ketentuan yang berlaku.
TDS Turun
Uji coba PertaPURE dilakukan di Lapangan Bekasap yang dikelola Pertamina Hulu Rokan (PHR). Tim mengambil sampel dari enam gathering station (GS) untuk memetakan karakteristik air terproduksi sekaligus menguji teknologi pengolahannya.
Perwakilan Pertamina, Sudariyanto, memaparkan bahwa uji lapangan berlangsung hampir satu tahun, dari Desember hingga Agustus. Hasil pemantauan daring menunjukkan kadar TDS turun dari kisaran 1.200–2.000 miligram per liter (mg/L) menjadi sekitar 30–100 mg/L.
Suhu air umpan yang berkisar 38–48 derajat Celsius juga turun menjadi sekitar 39 derajat Celsius setelah melewati cooling tower.
Meski demikian, penurunan TDS belum cukup untuk memastikan air hasil olahan dapat digunakan untuk semua keperluan. Sudariyanto mengatakan kualitas air masih perlu diuji berdasarkan parameter fisik, kimia, dan biologis sesuai dengan peruntukannya.
Tantangan teknis mencakup perubahan kualitas air serta kandungan fenol, nikel, amonia, silika, dan TDS yang dapat memengaruhi kinerja membran. Penumpukan kontaminan atau membrane fouling juga berpotensi menghambat aliran dan menurunkan produksi air.
Untuk mengatasi masalah tersebut, tim melakukan pembersihan membran secara berkala melalui metode clean-in-place (CIP) sekaligus mengevaluasi kemungkinan perbaikan pada tahap prapengolahan.
Kelayakan Ekonomi
Selain menguji kinerja teknologi, Pertamina mengidentifikasi calon pengguna air hasil olahan, antara lain Kilang RU II Dumai, industri pengolahan kelapa sawit, serta industri pulp dan kertas.
Welly mengatakan teknologi yang digunakan harus mampu menurunkan TDS hingga memenuhi spesifikasi calon pengguna dengan biaya yang ekonomis. Karena itu, kajian tidak hanya mencakup aspek teknis, tetapi juga kelayakan biaya pengolahan dan potensi pemanfaatan air.
Sudariyanto menambahkan, realisasi pemanfaatan air terproduksi masih bergantung pada kepastian calon pembeli, biaya distribusi, konsistensi kualitas, regulasi, dan kelayakan ekonomi.
“Air produksi ini dapat dimanfaatkan juga untuk kebutuhan personal dan industri, sesuai spesifikasinya,” kata Sudariyanto.
Pertamina akan melanjutkan kajian untuk menentukan teknologi yang paling sesuai, meningkatkan efisiensi penggunaan air, dan mengembangkan potensi ekonomi sirkular dalam operasi migas. Pemanfaatan air hasil olahan tetap harus memperhatikan standar kualitas, keselamatan, perlindungan lingkungan, dan kelayakan usaha. ***




