Pertamina Dorong B50 untuk Kurangi Impor Solar dan Perkuat Ketahanan Energi

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — PT Pertamina (Persero) mendorong diversifikasi sumber energi melalui pemanfaatan bahan bakar nabati, termasuk biodiesel B50, untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak (BBM) sekaligus meningkatkan nilai tambah sumber daya domestik.

Senior Vice President Business Development Pertamina Ary Kurniawan mengatakan Indonesia memiliki beragam sumber daya yang dapat dikembangkan sebagai bahan baku energi, mulai dari minyak dan gas bumi hingga komoditas perkebunan seperti kelapa sawit.

“Untuk menjaga ketahanan energi, kita perlu melakukan diversifikasi. Indonesia bukan hanya memiliki sumber daya minyak dan gas, tetapi juga memiliki sumber daya perkebunan seperti sawit yang dapat diolah menjadi energi,” kata Ary dalam Investor Daily Summit 2026 di Jakarta, Rabu (7/10).

Read also:  Karhutla Dekati Sumur ML-12, Pertamina EP Lirik Kerahkan Fire Brigade

Menurut Ary, implementasi biodiesel B50 menjadi salah satu bentuk pemanfaatan sumber daya domestik untuk memenuhi kebutuhan energi nasional. Program ini merupakan kelanjutan dari pengembangan mandatori biodiesel yang terus meningkatkan porsi bahan bakar nabati dalam campuran solar.

Implementasi B50 diproyeksikan dapat mengurangi kebutuhan impor solar sekitar 18 juta kiloliter dan menekan emisi hingga 44 juta ton setara karbon dioksida (CO2e). Program tersebut juga diperkirakan menghasilkan penghematan devisa hingga Rp170 triliun pada 2026.

Dari sisi ekonomi, pengembangan B50 diproyeksikan menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja serta meningkatkan nilai tambah minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) sebesar Rp20,9 triliun.

Read also:  Lakukan Studi Penangkapan dan Penyimpangan Karbon (CCS/CCUS), Pertamina Ungkap Target Tahap Comissioning

Ary mengatakan diversifikasi energi berbasis sumber daya domestik tidak hanya dilakukan melalui biodiesel. Pertamina juga mengembangkan biogasoline berbasis sawit yang akan diuji di dua kilang, serta bioetanol berbahan baku molase atau produk samping industri gula.

Pengembangan kedua jenis bahan bakar tersebut ditujukan untuk memperluas pemanfaatan bahan baku domestik sebagai sumber energi alternatif.

“Ini bagian dari bagaimana kita melakukan diversifikasi sumber energi yang kita miliki,” ujarnya.

Selain bahan bakar berbasis sawit dan molase, Pertamina mengembangkan pemanfaatan used cooking oil (UCO) atau minyak jelantah sebagai bahan baku sustainable aviation fuel (SAF), yakni bahan bakar penerbangan berkelanjutan.

Pengembangan SAF berbasis minyak jelantah menjadi salah satu upaya untuk memanfaatkan limbah sebagai bahan baku energi sekaligus mendukung pengurangan emisi di sektor penerbangan.

Read also:  Pertamina dan Eni Perkuat Kolaborasi, Dari Teknologi Eksplorasi Migas hingga SAF Berbasis Minyak Nabati

Ary menilai optimalisasi berbagai sumber daya domestik membutuhkan dukungan kebijakan dan regulasi pemerintah agar pengembangan bahan bakar alternatif dapat diperluas dan terintegrasi dengan kebutuhan energi nasional.

“Dengan sumber daya yang kita punya, sebenarnya banyak sekali yang bisa dikembangkan menjadi energi. Tantangannya adalah bagaimana kita mengoptimalkan sumber daya tersebut sehingga dapat mendukung ketahanan energi nasional,” katanya.

Diversifikasi bahan bakar tersebut menjadi bagian dari upaya Pertamina membangun sistem energi yang lebih beragam, dengan mengoptimalkan sumber daya dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan energi sekaligus mengurangi paparan terhadap ketergantungan impor BBM.***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

PLTA Batang Toru Mulai Penggenangan, Siapkan Tambahan Kapasitas 510 MW

Ecobiz.asia -- Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru berkapasitas 510 megawatt (MW) di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, mulai memasuki tahap penggenangan waduk...

Dari Hidrogen Hijau hingga PLTGU, PLN NP Bekali Calon Pemimpin dengan Perspektif Transisi Energi

Ecobiz.asia -- PT PLN Nusantara Power (PLN NP) memperkenalkan berbagai inovasi teknologi energi bersih dan praktik pengelolaan pembangkitan kepada 40 peserta Program Presiden untuk...

Ceria Corp Alirkan Air ke Sawah Terdampak Kemarau di Kolaka, Perkuat Sarana Pengairan

Ecobiz.asia – PT Ceria Nugraha Indotama (Ceria Corp) mengalirkan air ke sekitar 55 hektare persawahan di Kecamatan Wolo, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, untuk membantu...

APP Group Gabung Inisiatif RE100, Bidik 100% Listrik Terbarukan

Ecobiz.asia — APP Group menjadi perusahaan Indonesia pertama yang bergabung dengan RE100, inisiatif global yang mendorong perusahaan menggunakan 100% listrik terbarukan dalam kegiatan operasionalnya...

PHR Raih Upstream Energy Transformation Award, Perkuat Operasi Migas dengan Digital Twin dan AI

Ecobiz.asia – PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) meraih Upstream Energy Transformation Award dalam Dataiku Summit 2026 atas penerapan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI)...

TOP STORIES

PLTA Batang Toru Mulai Penggenangan, Siapkan Tambahan Kapasitas 510 MW

Ecobiz.asia -- Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru berkapasitas 510 megawatt (MW) di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, mulai memasuki tahap penggenangan waduk...

Gold Standard Luncurkan Metodologi G-RESET, Perluas Akses Pembiayaan Karbon untuk Proyek Energi Terbarukan

Ecobiz.asia – Lembaga standar karbon Gold Standard meluncurkan metodologi Grid-Connected Renewables, Storage and Energy Transition (G-RESET) untuk memperluas akses sertifikasi kredit karbon bagi proyek...

Soroti Perdagangan Karbon, Wamenhut Bicara Soal Transformasi Ekonomi Kehutanan Saat Dies Natalis Fahutan UGM

Ecobiz.asia - Kementerian Kehutanan mendorong transformasi ekonomi kehutanan dengan mengoptimalkan potensi biodiversitas dan jasa ekosistem, termasuk perdagangan karbon, untuk meningkatkan nilai ekonomi hutan sekaligus...

Dari Hidrogen Hijau hingga PLTGU, PLN NP Bekali Calon Pemimpin dengan Perspektif Transisi Energi

Ecobiz.asia -- PT PLN Nusantara Power (PLN NP) memperkenalkan berbagai inovasi teknologi energi bersih dan praktik pengelolaan pembangkitan kepada 40 peserta Program Presiden untuk...

Biaya dan Perizinan Jadi Tantangan Pengadaan Listrik Hijau bagi Industri Indonesia

Ecobiz.asia — Biaya listrik hijau dan kemudahan perizinan menjadi dua faktor utama yang memengaruhi keputusan perusahaan dalam mengakses energi terbarukan di Indonesia. Survei terhadap...