Ecobiz.asia — Investasi transisi energi global mencapai US$2,3 triliun pada 2025, tumbuh 8% dibandingkan tahun sebelumnya. Tren tersebut dinilai membuka peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi sekaligus membangun industri hijau dengan nilai tambah lebih tinggi.
Sekretaris Utama Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Rudy Salahuddin mengatakan perubahan investasi energi global kini semakin terkait dengan pembangunan industri, rantai pasok teknologi, dan penciptaan lapangan kerja.
“Indonesia telah memiliki momentum investasi yang selanjutnya perlu diarahkan ke sektor yang semakin produktif, hijau, dan bernilai tambah,” kata Rudy pada Seminar Nasional Green Economy 2045 di Jakarta, Selasa (29/9/2026).
Investasi terbesar dalam transisi energi global pada 2025 mengalir ke sektor transportasi terelektrifikasi sebesar US$893 miliar, energi terbarukan US$690 miliar, dan jaringan listrik US$483 miliar.
Di dalam negeri, realisasi investasi pada semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2% secara tahunan dan setara 49,5% dari target investasi 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun.
Investasi tersebut menyerap sekitar 1,4 juta tenaga kerja, naik 15% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Investasi hilirisasi mencapai Rp300,1 triliun atau 29,7% dari total investasi. Sebanyak 75,7% investasi hilirisasi tersebut berada di luar Jawa.
Menurut Rudy, hilirisasi perlu diperluas dari sekadar pengolahan bahan baku menjadi produksi material, komponen, hingga produk rendah karbon yang memiliki nilai tambah dan daya saing.
Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM telah memetakan 28 komoditas strategis di delapan sektor dengan potensi investasi sekitar US$618,1 miliar hingga 2040.
Pengembangan sektor tersebut diproyeksikan menciptakan lebih dari 3 juta lapangan kerja, antara lain melalui industri komponen panel surya, biofuel, sustainable aviation fuel (SAF), hidrogen, kendaraan listrik, baterai, dan battery energy storage system (BESS).
Dari sisi energi, Indonesia memiliki potensi energi terbarukan sekitar 3.687 GW, termasuk tenaga surya sebesar 3.294 GW. Namun, pemanfaatannya saat ini masih kurang dari 0,5% dari total potensi tersebut.
Peluang investasi juga terbuka melalui RUPTL 2025–2034 yang menargetkan tambahan kapasitas pembangkit dan penyimpanan energi sebesar 69,5 GW. Dari jumlah tersebut, 42,6 GW atau 61% berasal dari energi terbarukan, 10,3 GW atau 15% dari penyimpanan energi, dan 16,6 GW atau 24% dari pembangkit fosil.
Implementasi RUPTL tersebut diperkirakan membutuhkan investasi sekitar Rp2.133,7 triliun, termasuk Rp1.341,8 triliun untuk energi terbarukan melalui skema independent power producer (IPP).
Kebutuhan tenaga kerja di sektor pembangkitan diperkirakan mencapai lebih dari 836 ribu pekerja, dengan lebih dari 760 ribu di antaranya merupakan green jobs.
Rudy mengatakan ketersediaan energi bersih yang andal dan terjangkau akan menjadi salah satu faktor penting untuk menarik industri masa depan, termasuk amonia hijau, carbon capture and storage (CCS) atau carbon capture, utilization and storage (CCUS), pasar karbon, dan ekonomi sirkular.
“Dampaknya bukan hanya tambahan investasi, tetapi juga pekerjaan berkualitas, ekspor yang lebih kompetitif, dan posisi Indonesia yang lebih kuat dalam rantai pasok global,” ujarnya. ***




